Belum Sepenuhnya Aman, Jokowi Perlu Kerja Keras Dongkrak Elektabilitas di Madura
Nasional

Meskipun unggul dalam elektabilitas di Jawa Timur, namun perolehan suara kubu Jokowi masih kalah dari kubu Prabowo.

WowKeren - Dari survey yang dilakukan oleh The Initiative Institute, pasangan Joko Widodo alias Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Jawa Timur. Selisih angka yang diperoleh cukup jauh, Jokowi-Ma’ruf di 57,7 persen sedangkan Prabowo-Sandi di angka 19,7 persen.

Angka tersebut membuat pasangan Jokowi-Ma’ruf menang telak di Jawa Timur. Meskipun begitu, hal ini justru berkebalikan di Madura. Di Madura, justru Jokowi kalah telak dengan Prabowo. Jokowi-Ma’ruf mendapat angka 20,5 persen sedangkan Prabowo-Sandi unggul di 43 persen.

Untuk itu, perolehan suara Jokowi-Ma’ruf dinilai belum sepenuhnya aman. Pasangan nomor urut 01 tersebut harus bekerja lebih keras lagi untuk mendongkrak elektabilitas mereka di Pulau Garam. “Madura memang pada posisi terakhir Pak Jokowi masih harus bekerja keras,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah di Istora Senayan, Jakarta pada Rabu (19/12).

Salah satu cara yang bisa ditempuh oleh Jokowi adalah melalui upaya komunikasi langsung dengan rakyat. Seperti dengan digelarnya pertemuan ulama se -Madura di Bangkalan pada Rabu (19/12) pagi.

Khofifah menilai pola komunikasi secara langsung antara Jokowi dengan rakyat Madura mampu mendongkrak elektabilitas Jokowi di sana. Khofifah melihat para ulama memberikan respons yang sangat bagus terhadap pertemuan tersebut.


“Saya melihat respon pertemuan itu sangat bagus,” puji Khofifah. “Ketika mereka mengenal lebih dekat siapa Pak Jokowi, mudah-mudahan pilihan-pilihan itu kemudian akan menemukan format yang bisa memberikan penguatan pada Pak Jokowi.”

Dengan pertemuan semacam itu, warga Madura diharapkan bisa mengenal sosok Jokowi lebih dekat. Dalam pertemuan tersebut Jokowi juga sempat menyinggung isu PKI yang pernah dialamatkan ke dirinya.

Karena cukup banyak yang percaya dengan isu tersebut, Jokowi menilai perlu meluruskan hal itu. Ia menegaskan bahwa ketika PKI dibubarkan, usia Jokowi masih empat tahun.

“Saya diam bukan karena apa-apa. Setelah di survei ada 9 juta, supaya nggak berkembang jadi 9 juta, 10 juta, saya sampaikan,” ujar Jokowi di Bangkalan, Rabu (19/12). “PKI dibubarkan 1965-1966. Saya lahir tahun 1961, umur saya masih 4 tahun. Masuk TK saja belum.”

Khofifah optimis terhadap upaya peningkatan elektabilitas Jokowi di Madura. Pasalnya, di Kabupaten Sampang sendiri masih ada delapan puluh persen pemilih yang belum menentukan pilhannya. Angka ini sangatlah tinggi.

“Di Sampang sendiri undecided voter-nya masih 80 persen, jadi masih sangat tinggi. Saya hadir beberapa kali di Sampang,” tambah Khofifah. “Kemudian di Bangkalan, pemilu yang lalu kebetulan Pak Jokowi 18,8 persen.”

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait