Tsunami Selat Sunda Telan Banyak Korban, Begini Jawaban BMKG Saat Dinilai Tak Profesional
Nasional

Laporan terakhir mencatat sebanyak 373 orang meninggal dunia dan 1.459 orang luka-luka akibat terjangan tsunami Selat Sunda.

WowKeren - Tsunami yang menerjang wilayah Banten dan Lampung masih terus menjadi bahan perbincangan. Akibat terjangan air tersebut, ribuan orang menjadi korban. Tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12) tersebut diketahui turut menewaskan beberapa personel band Seventeen yang kini menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Banyaknya korban tsunami Selat Sunda ini juga membuat pekerjaan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendapatkan sorotan. Banyak pihak menilai bahwa BMKG kurang profesional dalam memberikan peringatan adanya tsunami kepada masyarakat.

Kendati demikian, BMKG sendiri sebenarnya sudah memberikan peringatan mengenai adanya gelombang tinggi di perairan Selat Sunda. Peringatan tersebut juga berlaku hingga 25 Desember 2018. Namun, banyaknya korban tewas dalam peristiwa ini membuat sangkaan BMKG tak profesional masih terus berhembus.

Menanggapi hal tersebut, kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa BMKG sudah menyampaikan informasi dengan tepat dan sesuai alur. Dwikorita juga menjelaskan bahwa hal penting yang harus disampaikan BMKG terlebih dahulu adalah informasi awal agar masyarakat tidak panik.


"Ini yang perlu diluruskan," ujar Dwikorita di kantor BMKG saat konferensi pers pada Senin (24/12) kemarin. "Jadi cara BMKG memberikan informasi itu yang penting cepat agar masyarakat tidak panik."

Dwikorita juga menyebutkan bahwa dalam peristiwa tsunami tersebut terjadi dua fenomena yang bersamaan dan dua-duanya benar. Dua kejadian tersebut adalah gelombang tinggi dan juga kejadian erupsi setelahnya.

Sementara itu, BMKG juga menampik adanya penilaian yang menyebut lembaganya kurang profesional dalam memberikan peringatan. Menurut Dwikorita, bukan kapasitas BMKG untuk menginformasikan adanya gempa yang berasal dari aktivitas vulkanik.

"Sehingga kalau namanya vulkanik, BMKG tidak mempunyai otoritas untuk memantau itu. Itu sudah ada (pihak yang berwenang)," jelas Dwikorita."Oleh karenanya, itu tidak dapat terpantau oleh sensor gempa tektonik yang ada BMKG, karena lebih dari 90 persen kejadian tsunami di Indonesia diakibatkan gempa tektonik."

Hingga saat ini, penyebab terjadinya tsunami di kawasan Selat Sunda masih terus dipantau. Selain itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada dalam level waspada juga terus mendapatkan perhatian. BMKG sendiri mengimbau masyarakat untuk tetap memberikan kepercayaan kepada BMKG dan tidak mudah terpancing hoaks terkait bencana alam.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!