Awan Tebal Selimuti Gunung Anak Krakatau, BMKG Kesulitan Pantau Dinding Kawah
Twitter/OysteinLAnderse
Nasional

Gunung Anak Krakatau masih diselimuti awan tebal, membuat tim patroli kesulitan melakukan pantauan.

WowKeren - Musibah tsunami yang melanda wilayah sekitar Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam cukup menyita perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geosifika (BMKG). Bagaimana tidak, tsunami tersebut berbeda dari tsunami biasa. Pasalnya, gelombang tinggi yang menyapu daratan tak didahului dengan aktivitas gempa seperti tsunami pada umumnya.

Adapun penyebab tsunami tersebut adalah terjadinya longsor pada lereng Gunung Anak Krakatau. Longsor tersebut disebabkan adanya aktivitas vulkanik gunung. Karena tidak menunjukkan tanda-tanda gempa, masyarakat pun tak sempat dievakuasi sehingga jumlah korban berjatuhan cukup banyak.

Untuk memantau kondisi Gunung Anak Krakatau, pihak BMKG telah berupaya mengamati secara rinci kondisi tebing dan dindingnya usai mengalami longsor. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati bersama TNI menaiki pesawat untuk melihat kondisi gunung dari atas.

Sayangnya, Dwikorita dan timnya tidak mampu mengamati lebih dekat karena kondisi Gunung Anak Krakatau yang kurang bersahabat. Debu tebal tak habis-habisnya menyelimuti gunung yang terbentuk akibat letusan Gunung Krakatau beberapa dekade lalu itu.

“Kami sudah dua kali terbang mendekat ke arah Gunung Anak Krakatau,” kata Dwikorita Karnawati di kantor BMKG, Rabu (26/12). “Dalam rangka mengecek langsung tebing kawah sampai saat ini belum bisa kami dekati.”


Partikel debu tak hanya menghalangi jarak pandang, namun juga mengenai kaca pesawat. Jika upaya patroli masih dilanjutkan, maka dikhawatirkan kondisi tersbut bisa menyebabkan kerusakan pada mesin pesawat.

“Dan hari pertama kami sudah kena kaca pesawat kena partikel abu,” papar Dwikorita. “Sehingga kami bersama TNI menyatakan bahwa ini dapat membahayakan mesin pesawat, harus segera kembali.”

Tak hanya gumpalan debu yang menjadi penghalang tim patroli, cuaca yang kurang bersahabat memperparah kondisi ini. Terutama angin kencang.

Angin kencang yang membawa sebaran debu membuat pihak BMKG dan TNI kesulitan untuk mencapai lokasi. “Arah sebaran abunya itu akan terdeteksi dengan dipengaruhi arah angin,” pungkas Dwikorita.

Sebelumnya, pihak BMKG sudah menanam enam seismograf di penjuru Gunung Anak Krakatu, yakni di wilayah Banten dan Lampung. Seismograf ini diharapkan mampu memberi alarm ketika mendeteksi adanya getaran akibat aktivitas vulkanik.

Dengan mengetahui sumber getaran, pihak BMKG mampu menganalisa dan menyimpulkan lokasi yang berpotensi longsor. Dengan begitu, peringatan dini terkait gelombang besar dapat segera disampaikan dan masyarakat bisa waspada.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!