Menurut Syamsuddin, Jokowi seharusnya menjaga originalitasnya. Ia melihat sikap Jokowi berubah mulai dari debat Pilpres 2019 perdana pada 17 Januari 2019 lalu.
- Nur Islamiyah
- Kamis, 07 Februari 2019 - 19:36 WIB
WowKeren - Joko Widodo selaku calon presiden nomor urut 01 kini mulai terlihat melakukan "serangan" terhadap kubu lawan. Penyataannya terkait pasangan capres-cawapres lainnya yang menggunakan "Propoganda Rusia" menjadi sorotan masyarakat hingga menyebabkan orang nomor satu di Indonesia tersebut dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengaku terkejut atas sikap Jokowi yang mulai menyerang Prabowo. Ia menilai bahwa kini Jokowi sudah keluar dari sifat dan kepribadian aslinya selama ini.
"Pak Jokowi bukan hanya ofensif, tapi emosional," kata Syamsuddin saat menghadiri survei Populi Center di Jakarta, Kamis (7/2). "Ini tidak begitu baik. Tidak begitu bagus."
Menurut Syamsuddin, Jokowi seharusnya menjaga originalitasnya. Ia melihat sikap Jokowi berubah mulai dari debat Pilpres 2019 perdana pada 17 Januari 2019 lalu. Orang nomor satu di Indonesia tersebut menyerang Prabowo soal mantan napi di Gerindra hingga menyindir beban masa lalu.
"Mestinya Jokowi menjaga genuinenya, originalitasnya," kata Syamsuddin. "Kalau kita ikuti 4 tahun ini, Jokowi enggak begitu."
"Saya enggak tahu mengapa (menjadi menyerang), mungkin beliau terpancing isu-isu yang tidak putus-putus ditujukan kepadanya," lanjut Syamsuddin. "Jangan jangan ini strategi penantang untuk memancing agar pak Jokowi emosional."
Sebelumnya, Jokowi menyampaikan bahwa dirinya tidak akan diam terus menerus. "Ya saya menyampaikan apa adanya," kata Jokowi usai menghadiri rapat konsolidasi Jenggala Center di Hotel JS Luwansa di Jakarta pada Minggu (3/2). "Ya kan, masa saya diem terus. Saya disuruh diem terus? Saya disuruh sabar terus? Ya enggak dong! Sekali-kali dong (menyerang)."
Jokowi mengaku bosan jika ia hanya berdiam diri sedangkan lawan politiknya semakin gencar menyerangnya. Oleh sebab itu, ia mulai mengubah gaya berpidatonya. Jika sebelumnya gaya pidatonya identik dengan kesan halus, maka tak ada salahnya jika pidatonya berubah menjadi sedikit keras.
"Masa suruh halus terus, ya kadang-kadang kita kan bosan," imbuh Jokowi. "Bolehlah keras-keras sedikit."
(wk/nris)