Khofifah mengusulkan agar Fadli berkunjung ke kediaman Kiai Maimun Zubair dan meminta maaf kepada sang ulama.
- Bertilia Puteri
- Senin, 11 Februari 2019 - 14:27 WIB
WowKeren - Kritik dan tanggapan atas puisi "Doa yang Ditukar" milik Fadli Zon datang dari berbagai pihak. Kini, giliran Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah Indar Parawangsa, yang turut angkat bicara.
Khofifah mengusulkan agar Fadli berkunjung ke kediaman Kiai Maimun Zubair dan meminta maaf kepada sang ulama. Pasalnya, banyak pihak menuding bahwa puisi yang ditulis Fadli tersebut menghina Kiai Maimun alias Mbah Moen.
"Saya rasa Bang Fadli, ada baiknya segera minta maaf. Saya rasa tidak perlu minta maaf lewat presscon (konferensi pers), sowan akan lebih baik," tutur Khofifah usai menghadiri acara Istighosah dan Deklarasi Jaringan Kiai-Santri Nasional (JKSN) Malang Raya, Minggu (10/2). "Sowan ke Mbah Kiai Maimun, mungkin khilaf pada saat menuliskan puisi itu."
Menurut Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024 tersebut, Mbah Moen pasti akan memaafkan Fadli. Meski demikian, upaya tersebut sebaiknya dilakukan agar karakter Fadli pulih di mata para santri Mbah Moen.
Apalagi nama Mbah Moen sendiri bukan hanya besar sebagai seorang tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pesantren Sarang yang dipimpin oleh Mbah Moen juga memiliki jaringan yang sangat kuat di Yaman dan Mesir.
"Saya rasa Mbah Kiai Maimun dengan sangat besar hati memberikan maaf. Saya kira beliau sebelum dimintai maaf sudah dimaafkan," terang Khofifah. "Tetapi santri-santrinya kan enggak lilo (rela) duwe (punya) Kiai sepuh. Santrinya banyak di mana-mana. Maka kehati-hatian kita menjaga karakter kita. Terakhir saya kira minta maaf, sowan."
Meski demikian, Khofifah bisa memaklumi puisi yang ditulis Fadli tersebut. Menurutnya, semua manusia pasti bisa melakukan kesalahan.
"Rasanya jika Bang Fadli namanya manusia suatu saat bisa khilaf. Tidak ada manusia, yang tidak pernah khilaf, hanya malaikat," jelas Khofifah. "Kalau masih level manusia khilaf itu kemungkinan terjadi kepada siapa saja."
Khofifah pun menjelaskan bahwa para politisi memang masih dalam taraf memikirkan kelompok dan golongannya saja. Sedangkan Indonesia memiliki banyak sekali politisi, namun sangat sedikit sosok negarawan yang selalu memikirkan kebaikan bersama.
"Baru kita bisa menyebutnya sosok negarawan," tutur Khofifah. "Kalau belum seperti itu berarti masih politisi."
(wk/Bert)