Fadli Zon Sebut Data yang Diberikan Jokowi Saat Debat Kedua Tidak Akurat
Instagram/fadlizon
Nasional

Fadli menilai bahwa apa yang disampaikan Jokowi tidak sesuai dengan fakta di lapangan, khususnya mengenai jumlah impor.

WowKeren - Debat Capres diharapkan mampu mendidik publik dengan sejumlah informasi. Oleh sebab itu, informasi yang diberikan oleh masing-masing kandidat harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Saat debat kedua, Capres 01 Joko Widodo alias Jokowi mengungkapkan bahwa jumlah impor terhadap komoditi telah mengalami penurunan, terutama jagung. Ia mengatakan bahwa pada 2014 jumlah impor jagung di Indonesia bisa mencapai 3.5 juta ton. Sedangkan selama 2018, pemerintah hanya mengimpor sejumlah 180 ribu ton.


Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengatakan bahwa data-data yang dipaparkan oleh Jokowi tersebut kurang akurat. Menurut Fadli, impor beras dan jagung yang dilakukan pemerintah jumlahnya justru kian meningkat.

"Dari fakta-fakta yang disampaikan oleh Pak Jokowi, ternyata banyak yang keliru," kata Fadli di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (18/2). "Termasuk soal impor jagung, impor beras luar biasa juga sebenarnya sampai 2 juta ton, jadi tidak benar juga terjadi penurunan impor gitu, justru terjadi penambahan."

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa sepanjang 2018, jumlah impor jagung di Indonesia mencapai 737,22 ton. Namun, tidak ada penjelasan apakah jagung tersebut khusus pakan ternak, konsumsi, maupun bahan baku industri.

Selain data yang kurang akurat, Fadli juga mengungkit janji-janji Jokowi yang belum terealisasi hingga saat ini. Seperti swasembada pangan dan upaya meningkatkan kualitas Pertamina hingga bisa lebih baik dari Petronas.

"Apalagi kalau ini dikaitkan dengan janji pada 2014 dulu akan ada swasembada, belum lagi janji pertumbuhan," jelas Fadli. "Energi juga kita lihat kita lihat janji di bidang energi dari Pak Jokowi waktu itu akan membuat Pertamina lebih hebat dari Petronas itu juga nggak kejadian."

Sebelumnya, Capres 02 Prabowo Subianto sempat mengkritik kebijakan impor yang terus dilakukan oleh pemerintah meski jumlah stok komoditi di dalam negeri masih mencukupi. Hal ini, dinilai Prabowo, kurang tepat. Berbeda dengan Jokowi, Prabowo ingin memberdayakan produsen lokal.

"Ini jawaban yang selalu kita dengar," kata Prabowo saat debat kedua di Hotel Sultan pada Minggu (17/2). "Masalahnya strategi falsafah ekonomi kita yang berbeda, kita ingin berdayakan produsen kita sendiri."

You can share this post!

Related Posts