Menurut Prabowo, fenomena mengalirnya kekayaan Indonesia ke luar negeri sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu, yang mana hal ini disebabkan karena kegagalan elite yang mengelolanya.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 06 April 2019 - 15:04 WIB
WowKeren - Tragedi yang terjadi pada tahun 1998 memang masih menyisakan misteri. Hingga saat ini, seperti apa fakta serta siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut hingga kemana korban yang "hilang" masih belum terungkap.
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sempat bercerita mengenai peristiwa tersebut saat memberikan pidato di acara silaturahmi Gerakan Elaborasi Rektor, Akademisi Alumni, dan Aktivis Kampus Indonesia.
Kala itu, suasana di ibukota sedang bergejolak dengan adanya demonstrasi mahasiswa dimana-mana. Para mahasiswa tersebut menuntut Soeharto untuk mundur dari kursi kepresidenan. Prabowo menuturkan bahwa dirinya ikut menyarankan Soeharto untuk mengundurkan diri. "Waktu itu saya ikut menyarankan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri," kata mantan Danjen Kopassus itu di Jakarta Selatan, Jumat (5/4).
Hal itu dilakukannya bukan karena ia tak setia kepada Soeharto, namun justru sebaliknya. "Bukan karena saya tidak loyal pada Pak Harto. Justru karena saya loyal pada Pak Soeharto, justru karena saya cinta sama Pak Harto," lanjut Prabowo.
Adapun cerita mengenai Peristiwa 1998 bermula ketika Prabowo menyinggung masalah kekayaan negara yang saat ini semakin mengalir keluar. Hal ini tidak hanya terjadi di era pemerintahan yang sekarang namun sudah berlangsung sejak Orde Baru.
Akibatnya, kekayaan yang seharusnya bisa dinikmati rakyat untuk hidup sejahtera justru tidak pernah dirasakan oleh bangsa Indonesia. Menurut Prabowo, hal ini disebabkan karena kegagalan para elite bangsa dalam mengelola kekayaan negara. Prabowo mengakui bahwa dirinya adalah bagian dari rezim yang berkuasa kala itu.
"Kita harus akui bahwa ini kegagalan kita semua," tegas Prabowo. "Saya ikut karena saya bagian dari suatu rezim yang berkuasa. Saya dulu jenderal. Saya elite tentara."
Menyadari kesalahan yang ada pada Orde Baru tersebut, Prabowo ingin mengoreksi rezim yang berkuasa kala itu. Meskipun Soeharto adalah mertuanya sendiri namun, ia mengaku bahwa dirinya sangat mendukung adanya reformasi pemerintahan.
"Saya berusaha mengoreksi rezim itu dari dalam," ungkap Ketua Umum Partai Gerindra itu. "Bersama kawan-kawan, kami berusaha dan kami melancarkan dan kami mendukung gerakan reformasi waktu itu walaupun pemimpin rezim yang berkuasa saat itu adalah mertua saya sendiri."
(wk/zodi)