Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyayangkan sikap Joko Widodo sebagai kepala negara yang seakan terlihat tidak sedang dilanda masalah di tengah peliknya kondisi politik Indonesia.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 31 Mei 2019 - 12:34 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo alias Jokowi belum lama ini mengunggah video singkat di media sosial Twitter. Dalam video itu, ia terlihat sedang mencukur rambut sebagai persiapan menjelang lebaran.
Video ini rupanya mendapat sindiran pedas dari salah satu politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean. Lewat cuitan di akun Twitter miliknya, ia mengaku terkejut dengan sikap Jokowi. Pasalnya, di tengah peliknya persoalan di dalam negeri, Jokowi masih bisa mengunggah video receh semacam itu.
Ferdinand mengingatkan Jokowi tentang Aksi 22 Mei yang belum terungkap dalangnya, ratusan petugas KPPS yang meninggal, hingga melonjaknya harga tiket. Terus terang sebagai rakyat, Ferdinand merasa sedih.
"Astagaaaa..!! Aceh lagi bicara Referendum, korban kekerasan 21 22 Mei belum terungkap, petugas KPPS ratusan meninggal dan ribuan yang sakit, harga tiket mahal tapi bapak masih bisa tweet receh begini sebagai Presiden?" cuit Ferdinand pada Kamis (30/5). "Sedih saya sebagai rakyat..!!"
Seperti diketahui, kasus kerusuhan yang pecah pada Rabu pekan lalu di sejumlah titik di kota Jakarta masih belum jelas akhirnya. Pasalnya hingga kini, siapa dalang dibalik aksi kerusuhan tersebut masih belum terungkap. Di tengah peliknya situasi politik di Indonesia, Ferdinand heran dengan Jokowi yang justru bersikap santai seperti tak sedang dilanda masalah meskipun sebagai kepala negara.
Belum lagi ditambah dengan Nangroe Aceh Darussalam yang mengajukan referendum jika Prabowo Subianto tidak terpilih sebagai presiden. Bagi Ferdinand, referendum NAD tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil langkah antisipatif.
"Maka itu, pemerintah harus segera mengambil langkah antisipatif," kata mantan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga itu dilansir dari Indonesia Inside, Jumat (31/5). "Jangan ambil langkah represif yang semakin memicu mereka untuk memisahkan diri."
(wk/zodi)