Saat ini, menurutnya, rakyat lebih membutuhkan realisasi janji semasa kampanye Pilpres 2019 ketimbang membicarakan gelaran pesta demokrasi lima tahun mendatang.
- Elvariza Opita
- Rabu, 31 Juli 2019 - 13:27 WIB
WowKeren - Saat ini isu pencalonan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tengah ramai dibicarakan. Untuk diketahui, isu ini berawal dari dukungan yang disampaikan secara terang-terangan oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh usia pertemuan pada Rabu (24/7) lalu.
Menanggapi isu tersebut, mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno ikut buka suara. Ia pun melontarkan kritikan pedas terhadap rencana dukungan tersebut. Hal ini Sandiaga sampaikan ketika menghadiri acara talkshow "Indonesia Lawyer Club" di salah satu channel TV swasta.
"Mas Sandi, tiba-tiba Surya Paloh mengundang Anies Baswedan, bahkan untuk bicara soal (Pemilihan) Presiden 2024, walaupun Presiden 2019 belum dilantik nih," ujar Karni Ilyas selaku pemandu acara tersebut. "Apa komennya Mas Sandi?"
Sandiaga pun menilai dirinya bukan sosok yang tepat untuk mengomentari perihal dukungan tersebut. Namun, menurutnya, masih terlalu dini dan kurang tepat apabila gelaran Pilpres lima tahun mendatang sudah mulai dibicarakan sejak sekarang.
"Jadi ini yang 2019 aja belum membentuk kabinet, belum dilantik, udah ngomong 2024," komentar Sandiaga, dikutip dari Suara, Rabu (31/7). "Dan akhirnya kita lupa dengan sebetulnya apa yang kita hadapi di 2019, 2020, 2021, agenda-agenda besar yang kemarin kita perdebatkan."
"Kita luar bisa jika dilihat dari energinya yang kita keluarkan untuk Pilpres 2019. Rp 25 triliun lebih anggaran (dikeluarkan), bagaimana perjuangan mengadu gagasan," imbuhnya. "Tiba-tiba sekarang bulan Juli, belum sampai Oktober, sudah ngomong 2024."
Menurutnya, pembicaraan soal Pilpres 2024 mungkin menarik untuk politikus dan pengamat, namun tidak untuk rakyat. Ia pun menyinggung soal perasaan rakyat yang lebih membutuhkan realisasi janji kampanye ketimbang membicarakan pesta demokrasi lima tahun mendatang.
"Menurut saya, ini prematur sekali. Pasti menarik untuk para pengamat atau politisi, tapi bagi rakyat?" tuturnya. "Saya memiliki data bahwa 60 persen masyarakat itu menunggu perbaikan ekonomi yang dijanjikan pada debat kemarin. Jika tidak ada perubahan, akan menimbulkan suatu kekecewaan."
(wk/elva)