Harga Kian Melejit Hingga Cetak Rekor Tertinggi, Sri Mulyani Sebut Emas Investasi Aman
Nasional

Terus meroketnya harga logam mulia tak lepas dari semakin memanasnya perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok beberapa waktu belakangan ini.

WowKeren - Harga logam mulia atau emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kian merangkak naik. Pada Senin (26/8), tercatat harga emas Antam menyentuh angka Rp 774.000 per gramnya. Adapun angka tersebut naik drastis dari harga di hari Sabtu (24/8) yang berada di level Rp 765.000 per gram.

Adapun harga tersebut merupakan rekor tertinggi selama enam bulan terakhir. Sementara harga buyback atau pembelian kembali emas Antam hari ini naik Rp 8.000 ke level Rp 700.000 per gram.

Menteri Keuangan Sri Mulyani buka suara menanggapi harga logam mulia ini yang kian melejit. Ia mengakui bahwa emas bisa menjadi instrumen investasi yang aman saat situasi dunia sedang bergejolak seperti sekarang ini.

Alasannya, sudah beberapa kali harga emas mencetak rekor tertingginya. Kenaikan harga emas di pasar internasional juga sejalan dengan pasar dalam negeri. Adapun kenaikan harga emas tak lepas dari memanasnya situasi geopolitik dunia yang turut memberikan dampak pada perekonomian sejumlah negara.


"Safe haven di komoditas emas," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu saat jumpa pers APBN Kita di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (26/8). "Kenaikan harga terjadi semenjak tahun ini."

Harga emas yang kian merangkak naik dipicu oleh meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Akibatnya, pelaku pasar keuangan semakin sulit melihat akhir dari perseteruan yang naik-turun sejak Agustus tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat harga emas dunia menguat mengingat sifat logam mulia sebagai instrumen investasi lindung nilai yang menghindari risiko. Emas dianggap instrumen aman atau safe haven instrument ketika pasar global bergejolak.

Sementara itu terkait perang dagang yang berlangsung antara AS dan Tiongkok, Indonesia juga harus waspada akan potensi banjirnya barang impor. "Maklum pasar Indonesia 260 juta penduduk yang tingkat konsumsinya cukup dominan. Barang barang dari China yang banjir karena trade war akan perlebar defisit perdagangan sekaligus CAD," kata Peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara dilansir dari Detik Finance, Senin (26/8).

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait