Najwa Shihab dikenal pedas mengkritisi sejumlah publik figur seperti Syahrini atau Fahri Hamzah. Namun meski begitu, sikap Najwa dalam mengkritisi polemik RUU KUHP dan UU KPK itu malah menuai sorotan.
- Ria Susilo Wardhani
- Kamis, 26 September 2019 - 11:52 WIB
WowKeren - Syahrini pernah sesumbar menjadi lulusan terbaik di Fakultas Hukum. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas Pakuan Bogor di Fakultas Hukum.
Syahrini mengaku termasuk lulusan tercepat di kampusnya. Ia menyombongkan diri meraih akreditasi A untuk skripsinya.
"Hari ini silaturahmi dengan almamater saya, Universitas Pakuan Bogor. Saya kan Fakultas Hukum dulunya, lulusan tahun 2007 ya," kata Syahrini. "Jadi jauh sebelum aku jadi penyanyi aku sudah jadi sarjana hukum dulu. Aku tuh dapat akreditasi A di skripsiku dan aku termasuk salah satu yang cepat kuliahnya. Pokoknya otakku belajar dan belajar soal hukum. Ya sekarang masih SH, sarjana hiburan."
Namun meski mengaku cepat lulus, kualitas Syahrini sempat jadi bahan sindiran Najwa Shihab. Menurut Najwa, Syahrini tak benar-benar mengamalkan ilmu hukum yang pernah ia pelajari.
"Sama seperti saya, Syahrini lulusan hukum, tapi teteh melanggar hukum dengan foto di jalan tol, di kuburan Nazi. Mungkin dulu belajarnya hanya sampai semester 1, sisanya semester pendek. Maju mundur semester pendek," sentil Najwa.
Najwa sebelumnya sempat kuliah S1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Namun sama seperti Syahrini, Najwa juga lintas bidang dengan menekuni dunia jurnalistik. Bedanya, Najwa tetap memahami seluk-beluk soal hukum demi menambah pengetahuannya sebagai host talk show "Mata Najwa".
Terkait Najwa, ia sempat jadi sorotan saat acaranya membahas tentang polemik RUU KUHP hingga Revisi UU KPK. Ia mempertanyakan penetapan undang-undang yang terkesan dibuat tergesa-gesa. Selain itu, Najwa mengajukan berbagai pertanyaan menohok untuk bintang tamu di acaranya.
Ia sempat mencecar Fahri Hamzah yang dinilai terlalu bertele-tele. Awalnya, Najwa membahas pernyataan Fahri terkait revisi UU KPK.
"Salah satu cara menekan Presiden Jokowi adalah menerbitkan Perppu. Saya tahu permainan ini, mereka akan lumpuhkan presiden sampai keluarkan Perppu, mengesahkan kembali UU KPK lama," kata Najwa membacakan pernyataan Fahri Hamzah. Najwa lalu menanyakan maksud Fahri soal "permainan" tersebut.
"Bang Fahri, tolong dijawab permainan apa Bang Fahri?" tanya Najwa. "Maksudnya gini, saya agak frustasi karena setiap presiden ini, presidensialisme dan presiden dipilih, ditanya bagaimana memberantas korupsi. Kan saya mewakili rakyat, rakyat melihat korupsi kok enggak selesai-selesai, saya kan mendengar masyarakat, dia bilang kok enggak selesai-selesai tiap hari ditangkap, tiap hari kok enggak selesai?" terang Fahri.
Wakil Ketua DPR itu lantas membanggakan diri menjadi sosok yang selalu mendengarkan aspirasi rakyat dan mahasiswa. Karena gemas mendengar jawaban Fahri, Najwa kembali mengajukan pertanyaan.
"Bang Fahri Anda tidak menjawab pertanyaan saya, permainan siapa ini?" cecar Najwa. "Presiden yang seharusnya punya permainan, dialah yang harusnya menentukan dan ditagih kok korupsinya enggak selesai. Dan dia harus membuat definisi, 'Saya akan selesaikan (korupsi) ini dalam lima tahun'," kata Fahri. "Langsung dijawab Bang Fahri, soalnya muter-muter, langsung to the point," sentil Najwa.
Sikap Najwa ini menuai sorotan. Meski cukup kritis, sebagian justru menyarankan Najwa lebih bijak dalam menyuarakan pendapat.
"Mbak Nana, kenapa tidak ingatkan dan mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah ini ke Mahkamah konstitusi ... Itu pastinya lebih bijak," kata netter. "Benar, ,kok mlh menanaskan suasana unt sesuatu yg tdk betul2 diketahui , stlh penjelasan di ILC oleh p Yashonta gmn tuh? Kok sy lht aneh ya Nasywa Shihab kli ini," kata netter.
(wk/riaw)