Total kerugian yang dialami Adrian Maulana disebut sebagai jumlah terbesar yang pernah dilaporkan pada pihak kepolisian. Tabungan Haji Adrian selama 7 tahun pun ikut raib.
- Neressa Prahastiwi
- Rabu, 02 Oktober 2019 - 16:06 WIB
WowKeren - Adrian Maulana telah lama tak terlihat wira-wiri di layar kaca. Ia memang memutuskan berhijrah dari dunia keartisan dan kini sibuk berdakwah. Perubahan Adrian tersebut tak lepas dari kejadian yang dialaminya hampir 7 tahun silam.
Jebolan Abang None Jakarta tahun 1997 tersebut masih mengingat persis tanggal kejadian harta bendanya dikuras habis. Kala itu, Adrian dan keluarga sedang tidak berada di rumah. Adrian mengaku sangat terkejut ketika ketua RW tempat tinggalnya mengabari apabila harta benda di rumahnya telah dirampok.
"Tanggal 6 Desember 2012, saya mengalami kehilangan harta benda hampir seluruh yang saya miliki ada di rumah," cerita Adrian dilansir channel YouTube "Cinta Quran TV". "Saya tinggal di Bintaro Jaya, saya tinggal sudah 24 tahun.
"Saya ditelepon ketua RW saya. Padahal saya tinggal di lingkungan yang sangat aman. Cluster, empat satpamnya, dua di depan, dua di belakang," imbuh Adrian. "Orang masuk itu harus ninggalin KTP. Orang jualan enggak boleh masuk dalam lingkungan cluster kita. Sangat secure, sangat aman."
Akibat kejadian tersebut, Adrian mengalami kerugian hingga mencapai Rp700 juta. Bahkan, tabungan haji Adrian yang dikumpulkan selama beberapa tahun pun ikut lenyap. "Hari itu saya punya US$ 15.700, yang saya nabung 6 atau 7 tahun lamanya dan hilang hanya dalam tempo 30 menit saja," ungkap Adrian.
Bahkan menurut kepolisian, harta Adrian yang dilaporkan hilang adalah jumlah terbesar yang pernah mereka terima. Saat kesulitan tersebut, Adrian akhirnya kembali mengingat Tuhan dan mulai rajin beribadah. Dukungan pun diberikan orang-orang yang ditemui Adrian di masjid yang belasan tahun sebelumnya hanya ia kunjungi saat salat Jumat.
"Pada saat kita sedang down, sedang terpuruk, mudah bagi kita untuk mencari Allah. Mudah bagi kita untuk salat, mudah bagi saya waktu itu tahajud untuk mengadu dan menangis," tandas Adrian. "Sampai mudah bagi saya untuk melangkahkan kaki saya ke masjid raya Bintaro yang dulu cuma salat jumat aja saya ke sana."
(wk/nere)