Kelompok teroris Filipina, Abu Sayyaf, masih menyandera 1 WNI dengan inisial MF. Penyanderaan ini membuat Menhan Prabowo Subianto sigap bertolak ke Manila demi membahas kiat pembebasan sang WNI.
- Elvariza Opita
- Rabu, 25 Desember 2019 - 11:56 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu Indonesia dibuat heboh dengan aksi penyanderaan tiga WNI oleh kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina. Ketiganya sudah disandera sejak September 2019 lalu, dan baru menemui titik terang pada Minggu (22/12) kemarin.
"Setelah 90 hari dalam penyanderaan, melalui kerjasama erat Indonesia dan Filipina, 2 WNI berhasil dibebaskan dari penyanderaan ASG pada tanggal 22 Desember 2019," kata Kementerian Luar Negeri dalam keterangan tertulisnya. "Satu WNI masih terus diupayakan pembebasannya."
Masih adanya satu WNI yang disandera kelompok tersebut, maka pekerjaan pemerintah Indonesia belum selesai. Terbukti dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang dikabarkan akan bertemu dengan otoritas Filipina untuk membahas pembebasan satu WNI tersebut.
Informasi ini disampaikan oleh Staf Khusus Menhan Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antar Lembaga Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak. Dahnil menyebut pertemuan itu akan digelar dalam waktu dekat.
"Pak Prabowo akan bertemu dengan Menhan Filipina di Manila beberapa hari ke depan," ujar Dahnil, dikutip dari Suara, Rabu (25/12). "Untuk membahas hal tersebut."
Dalam pertemuan itu, ujar Dahnil, Prabowo akan berterima kasih secara langsung kepada Menhan Filipina yang telah berkontribusi aktif dalam membebaskan dua WNI sandera tersebut. Selain itu, Prabowo juga akan membahas kiat-kiat agar penyanderaan semacam ini tak lagi terulang di masa depan.
"Juga bicara tindak lanjut berikutnya," jelas Dahnil. "Terkait dengan langkah-langkah untuk mencegah kembali terulang penculikan-penculikan terhadap nelayan Indonesia, termasuk bicara dengan Malaysia."
Dari ketiga sandera dengan inisial SM, ML, dan MF, hanya WNI terakhir lah yang belum berhasil dibebaskan. "SM dan ML akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan selanjutnya akan direpatriasi ke Indonesia," ujar Kemenlu.
Operasi ini pun berhasil dilakukan atas kerja sama intensif antara intelijen Indonesia dan militer Filipina. Sayangnya operasi tersebut juga membuat seorang prajurit Filipina gugur di medan.
(wk/elva)