Aktivis remaja asal Swedia, Greta Thunberg kembali diusulkan menjadi calon peraih penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini atas aksinya dalam isu perubahan iklim.
- Ruth Meliana
- Selasa, 04 Februari 2020 - 10:28 WIB
WowKeren - Nama aktivis remaja asal Swedia, Greta Thunberg terus mencuri perhatian dunia Internasional atas aksinya dalam mengkampayekan isu perubahan iklim. Kini, di usianya yang ke-17, Thunberg telah diusulkan kembali menjadi calon peraih Nobel Perdamaian di tahun ini.
Thunberg diusulkan menjadi calon peraih Nobel Perdamaian oleh dua politis Partai Kiris Swedia, Jens Holm dan Hakan Svenneling. Keduanya menilai jika aksi gerakan lingkungan Thunberg telah membuka mata dunia terkait perubahan iklim yang sudah benar-benar krisis.
"Thunberg telah bekerja keras untuk membuka mata para politikus terhadap krisis iklim," demikian isi pernyataan kedua politikus itu, seperti dilansir Associated Press, Senin (3/2). "Aksi untuk menekan tingkat emisi negara kami supaya sesuai dengan Kesepakatan Paris juga bentuk perdamaian."
Sementara itu, tahun lalu tiga anggota parlemen Swedia juga telah mencalonkan Thunberg kepada Komite Nobel. Meski demikian, hingga saat ini Komite Nobel masih juga belum memberikan pernyataan terkait nominasi Thunberg. Pendaftaran nominasi Nobel sendiri sudah dimulai pada 1 Februari lalu.
Seperti yang diketahui, Thunberg memulai aksinya dalam mengkampanyekan tentang perubahan iklim pada Agustus 2018 lalu. Kala itu, ia nekat membolos sekolah dan berkemah di depan gedung parlemen Swedia untuk mendesak pemerintah setempat segera mengambil tindakan akan bahayanya perubahan iklim.
Kesadaran Thunberg sebagai seorang individu terhadap lingkungan lantas semakin membesar. Satu suaranya semakin mempengaruhi masyarakat lainnya untuk mulai menyadari darurat perubahan iklim. Kampanyenya pun berubah semakin besar dan mampu menjadi pergerakan global.
Tak tanggung-tanggung, dalam waktu 16 bulan Thunberg sudah berbicara tentang perubahan iklim di hadapan pimpinan-pimpinan pemerintahan dunia di PBB hingga berjumpa dengan Paus. Thunberg bahkan berani berdebat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal perubahan iklim yang dinilai sudah mencapai tahap darurat.
Tak sampai disitu, Thunberg juga berhasil menginspirasi dan menggerakkan empat juta orang untuk bergabung dalam aksi jeda untuk iklim atau yang disebut global climate strike. Aksi pada 20 Spetember tersebut menjadi demonstrasi iklim terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia.
Gerakan nyata Thunberg dalam menyadarkan dunia untuk lebih peka dan menanggapi serius perubahan iklim membuatnya dinobatkan sebagai "Person Of The Year" tahun 2019 oleh majalah Time. Selain itu, ia juga menjadi pemenang Right Livelihood Award yang merupakan dijuluki sebagai "Nobel Alternatif".
(wk/lian)