Iran beberapa waktu lalu tengah berusaha untuk menyempurnakan obat untuk virus corona. Pada Kamis (12/3), Iran telah menguji coba obat tersebut pada pasien corona dan berhasil redakan gejala dalam waktu 48 jam.
- Nidya Putri
- Jumat, 13 Maret 2020 - 11:53 WIB
WowKeren - Iran, hingga kini masih menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki jumlah kasus virus corona terbanyak. Pada Jumat (13/3), tercatat ada lebih dari 10 ribu kasus baru positif corona.
Meski kondisi negara Iran tengah terpuruk lantaran wabah corona kian mengganas, pemerintah tetap bekerja untuk membuat vaksin untuk membasmi virus COVID-19. Para ilmuwan di Iran bahkan telah mengembangkan vaksin COVID-19 yang sebentar lagi akan segera memasuki tahap produksi.
Dilansir Tehran Times, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoush Jahanpour mengaku telah menguji coba obat imunomodulator bernama Actemra. Obat tersebut telah diuji coba pada pasien positif corona yang menghuni rumah sakit di kota Isfahan.
Actemra memang terlalu dini untuk disebut sebagai obat antivirus yang ampuh menangkal virus corona. Namun, saat diuji coba, obat tersebut terbukti bisa menurunkan gejala klinis yang dialami pasien virus corona dalam waktu 48 jam.
Karena keberhasilan ini, uji coba akan terus dilanjutkan pada beberapa pasien lainnya. Jika hasilnya relatif sama, kemungkinan Actemra akan terdaftar dalam farmasi nasional.
Selain di Iran, Actemra juga disebut mujarab atasi korban terjangkit virus corona di Tiongkok. Bahkan obat tersebut digunakan untuk mengobati pasien kasus COVID-19 yang parah.
Sayangnya, produksi massal obat ini terhambat karena kendala teknis. Jadi Actemra kemungkinan baru bisa dipasarkan dalam tiga pekan mendatang.
Jahanpour juga mengungkapkan manfaat potensial dari obat biosimilar lainnya yang tengah dipersiapkan pemerintah Iran untuk mengobati pasien COVID-19. Obat tersebut adalah interferon alfa dan interferon beta.
Jika tidak ada kendala, Iran telah memiliki produsen kedua obat tersebut. Adapun obat lain yang belum resmi masuk dalam daftar obat penanganan kasus virus corona negara itu adalah Tocilizumab. Karena, masih diperlukan riset lebih lanjut untuk membuktikan khasiat obat tersebut.
(wk/nidy)