Sejumlah Menteri terkait diminta oleh Presiden Joko Widodo untuk menghitung rencana penurunan harga BBM dalam rapat terbatas secara online pada Rabu (18/3) hari ini.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 18 Maret 2020 - 16:24 WIB
WowKeren - Penurunan harga minyak dunia hendak dimanfaatkan oleh Presiden Joko Widodo untuk mendorong perekonomian. Sejumlah Menteri terkait diminta Jokowi untuk menghitung rencana penurunan harga BBM dalam rapat terbatas secara online pada Rabu (18/3) hari ini.
Sebagai informasi, harga minyak dunia telah merosot ke level USD 30 per barel. "Karena itu saya minta kalkulasi dihitung dampak dari penurunan ini pada perekonomian kita terutama BBM, baik BBM subsidi dan nonsubsidi," tutur Jokowi.
Selain itu, Jokowi juga meminta realisasi penurunan harga BBM ini dilakukan pada waktu yang tepat. Dengan demikian, penurunan harga tersebut dapat memberikan manfaat bagi perekonomian di dalam negeri.
"Dihitung berapa lama kira-kira penurunan ini akan terjadi, kemudian perkiraan harga ke depan," ujar mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. "Harus merespons dengan kebijakan yang tepat dan kita harus bisa manfaatkan momentum dan peluang ini dari penurunan minyak ini untuk perekonomian negara kita."
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyatakan bahwa penurunan harga minyak dunia akan memberikan dampak positif. Dalam Anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia 2020, asumsi harga minyak mentah sebesar USD 63 per barel.
"Pertama, kalau dari dunia, langkah harga minyak turun di tengah kondisi ekonomi tertekan mungkin ini menjadi salah satu bentuk positif, dalam artian menjadi stimulasi, tidak membebani," jelas Sri Mulyani pada Senin (9/3) pekan lalu. Turunnya harga minyak dunia ini juga diharapkan dapat mengurangi beban PT Pertamina (Persero), mengingat Indonesia adalah salah satu importir minyak mentah dan BBM terbesar di Asia Tenggara.
"Untuk Indonesia, kita tentu lihat dari berbagai aspek. Kalau selama ini impor minyak kita cukup besar berarti penurunan harga minyak ini menjadi sesuatu yang menjadikan penurunan beban Pertamina mengimpor," pungkas Sri Mulyani. "Itu saya harap nanti akan terlihat dalam neraca Pertamina."
Namun Sri Mulyani juga menyebut bahwa jumlah penurunan beban tersebut masih akan dilihat dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini juga akan tergantung dari situasi di Arab Saudi dan Rusia sebagai negara produsen minyak.
(wk/Bert)