Suka Duka Pasca Isolasi Corona di Tiongkok: Semua Tak Lagi Normal
SerbaSerbi

Devika Koppikar membayangkan masa pascakarantina di Tiongkok akan kembali normal seperti sediakala. Sayangnya kondisi di lapangan berbeda dari bayangannya, seperti kisah berikut.

WowKeren - Tiongkok menjadi salah satu negara yang diklaim sudah berhasil mengentaskan wabah virus Corona. Meski belakangan klaim ini patut dipertimbangkan ulang mengingat makin banyaknya tambahan kasus positif terutama imported case yang asimtomatis atau tak bergejala.

Pemerintah pun mengambil langkah isolasi daerah atau lockdown parsial menghadapi wabah gelombang pertama. Dan kini status isolasi itu telah dicabut.

Seorang guru berkewarganegaraan Amerika Serikat, Devika Koppikar pun membagikan pengalamannya usai "lepas dari kurungan". Satu hal yang begitu ia rindukan, yakni menyantap berbagai panganan yang begitu dirindukannya semasa isolasi seperti susu kocok hingga burger.

Namun ternyata impian sederhananya itu tak bisa dipenuhi dengan mudah. Sebab usai status isolasi dicabut, nyatanya Tiongkok tak lagi normal, bahkan sempat membuatnya berseloroh menyebut sebagai "BC", bukan untuk "Before Century" alias sebelum masehi, tetapi "Before COVID-19".

Awalnya ia sudah diperingatkan oleh Kedutaan Besar AS agar kembali ke negaranya saja. Teman-temannya memilih untuk kembali, namun tidak dengan dirinya. "Tempat manapun selain Tiongkok lebih aman," ujar kawan-kawan Koppikar, dilansir BBC.

Ketika masa karantina dimulai, Koppikar mengaku khawatir soal pemenuhan kebutuhan sehari-harinya. Namun sesama ekspatriat yang juga menjalani karantina memastikan pemerintah Tiongkok akan memenuhi kebutuhannya.

"(Tidak perlu khawatir) Kamu berada di rumahmu sendiri," ujar tetangganya. "Mereka akan membawakanmu makanan dan kebutuhan lain yang kamu perlukan."


Masa karantina pun berlalu, dan tiba saatnya bagi Koppikar untuk kembali menghirup udara bebas. Ia mengaku luar biasa terkejut ternyata rumahnya tak "dikunci sedemikian rupa", melainkan hanya ditempel kertas tepat di bagian penyambung antara daun pintu dan dinding sebelahnya.

"Jika kertas itu rusak, mereka akan tahu aku mencoba kabur," tutur Koppikar. Adalah ketua tetangga setempat, semacam RT di Indonesia, yang menempelkan kertas itu.

Tempat pertama yang ditujunya pascakarantina adalah kantor pengurus apartemen. Kesehatan tubuhnya diperiksa sebelum diberi sertifikat yang menyatakan dirinya sudah benar-benar sembuh dan bebas virus.

Koppikar diperkenankan berkeliaran di jalan sebagaimana kehidupan normal, namun situasi lah yang tak lagi seperti dulu. Toko-toko di sekitarnya bahkan masih memajang spanduk "Selamat Natal" dan "Selamat Tahun Baru Imlek", meski sudah berbulan-bulan berlalu.

Ketika bisa mengakses toko swalayan, Koppikar sudah membayangkan bisa membeli berbagai bahan yang tak didapatnya selama masa karantina. Nahas, rak-rak di swalayan saja masih kosong, memaksanya kembali menyantap bahan selayaknya masa karantina kemarin.

Memesan makanan, bahkan mendapatkan sebotol air mineral pun menjadi tantangan baginya. Kini situasi pun makin tak terduga usai Tiongkok merasa negaranya tidak lagi aman dari virus dan travel warning kembali diberlakukan di mana-mana.

"Kapan situasi normal itu akan datang?" pungkasnya. "Tak ada jawaban kecuali situasi akan terus seperti roller coaster dan bianglala, bisa saja begitu cepat atau sangat lambat, tergantung bagaimana progres di lapangan."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait