Dirjen WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengutuk usulan dua orang ilmuwan asal Prancis untuk menjadikan Afrika sebagai wilayah uji coba vaksin corona.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 07 April 2020 - 16:23 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam komentar dua ilmuwan Prancis yang menyarankan agar vaksin untuk virus corona bisa diuji coba di Afrika. Dirjen WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan jika Afrika tidak akan dijadikan sebagai tempat uji coba vaksin virus COVID-19.
"Afrika tidak dapat dan tidak akan menjadi tempat uji coba untuk vaksin apa pun," kata ahli mikrobiologi asal Ethiopia tersebut seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (7/4). "Kami akan mengikuti semua aturan untuk menguji vaksin atau terapi apa pun di seluruh dunia, menggunakan aturan yang persis sama."
Ia menegaskan bahwa prosedur akan diterapkan secara merata terlepas itu benua Eropa maupun Afrika. "Apakah itu di Eropa, Afrika, atau di mana pun, kami akan menggunakan protokol yang sama. Mentalitas kolonial harus berhenti. WHO tidak akan membiarkan ini terjadi," tegas Tedros.
Dalam kesempatan itu, Tedros juga mencatat sejumlah negara telah merekomendasikan atau tengah mempertimbangkan untuk menggunakan masker medis dan non medis di depan umum. Meski demikian, ia tidak menyebut nama negara mana saja yang dimaksudnya itu.
Namun, ia yang jelas menegaskan jika masker medis harus diprioritaskan untuk dokter dan tim medis yang membantu penanganan pasien corona. Masker medis ini sangat penting bagi dokter mengingat mereka juga sangat rentan terpapar virus. Namun sayangnya, pasokan perlengkapan ini masih kurang secara global.
"Pertama dan terpenting, masker medis harus diprioritaskan untuk petugas kesehatan di garis depan respons," papar Tedros. "Kami tahu masker medis dapat membantu melindungi petugas kesehatan, tetapi mereka kekurangan pasokan secara global."
Oleh sebab itu, ia khawatir jika masker medis ini dipakai oleh masyarakat maka dokter yang berjuang di garda depan justru akan mengalami kekurangan pasokan. "Di beberapa tempat, kekurangan ini menempatkan petugas kesehatan dalam bahaya nyata," katanya.
(wk/zodi)