Sri Lanka telah mencatat kasus corona positif sebanyak 210 dengan total kematian 7 orang. Pemerintah setempat pun telah memberlakukan jam malam sampai waktu yang tidak ditentukan.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 13 April 2020 - 14:29 WIB
WowKeren - Pemerintah Sri Lanka mewajibkan langkah kremasi bagi jenazah pasien yang meninggal akibat infeksi virus corona (COVID-19). Keputusan ini tentu menuai protes dari sejumlah umat Muslim di negara tersebut, yang merupakan kelompok minoritas.
Dilansir dari The Hindu, Senin (13/4), dari tujuh jenazah yang meninggal, tiga di antaranya yang merupakan jenazah orang muslim juga ikut dikremasi meskipun pihak keluarga telah melayangkan protes.
"Mayat seseorang yang telah meninggal atau diduga meninggal akibat COVID-19 akan dikremasi," kata Menteri Kesehatan Pavithra Wanniarachchi seperti dilansir dari The Hindu. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyebut jika jenazah korban meninggal akibat virus corona bisa dikremasi ataupun dikuburkan.
Sri Lanka telah mencatat kasus corona positif sebanyak 210 dengan total kematian 7 orang. Pemerintah setempat pun telah memberlakukan jam malam sampai waktu yang tidak ditentukan.
Sementara itu terkait kebijakan pemerintah untuk mengkremasi mayat jenazah pasien corona, turut memicu kritik dari kelompok penggiat hak asasi manusia. Sebab keputusan semacam itu dianggap justru berpotensi memicu perselisihan. Sedangkan di masa pandemi yang merajalela ini diperlukan sinergitas semua pihak untuk menanganinya.
"Pada saat yang sulit ini, pihak berwenang harus menyatukan masyarakat dan tidak memperdalam perpecahan di antara mereka," kata Direktur Amnesty di Asia Selatan, Biraj Patnaik. Sementara itu, populasi Muslim di negara tersebut hanya sebesar 10 persen dari total penduduk yang berjumlah 21 juta jiwa.
Partai politik utama di negeri itu yang mewakili umat Muslim menuduh pemerintah mengabaikan dan tak berperasaan atas ritual keagamaan dan keinginan keluarga. Sementara itu, ketegangan antara Muslim dan mayoritas penduduk Sinhala memuncak pada Paskah usai kaum jihadis setempat dituduh melakukan bom bunuh diri di 3 hotel dan 3 gereja hingga menewaskan 279 orang.
Ketegangan berlanjut beberapa minggu kemudian ketika kelompok Sinhala membunuh seorang muslim dan melukai puluhan lainnya. Ratusan rumah dan kendaraan hancur akibat kerusuhan ini.
(wk/zodi)