Indonesia sempat menuai kritikan lantaran jumlah tes deteksi virus Corona yang dianggap terlalu rendah bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya, bahkan dicap terendah kedua di dunia.
- Elvariza Opita
- Senin, 13 April 2020 - 16:02 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu pihak internasional menyoroti soal minimnya jumlah pelaksanaan tes untuk mendeteksi pasien positif COVID-19. Presiden Joko Widodo pun ikut menyadari kritikan tersebut dan berusaha memperbaiki situasi yang ada.
Salah satunya dengan langsung menginstruksikan pelaksanaan tes polymerase chain reaction (PCR) terhadap virus Corona. Tak main-main, Jokowi berharap setidaknya dalam sehari ada 10 ribu tes PCR yang dilakukan oleh otoritas yang bertugas.
"Ini juga lompatan yang baik," ujar Jokowi saat membuka Rapat Terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/4), yang turut melibatkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Wabah Virus Corona. "Tetapi saya ingin agar setiap hari paling tidak kita bisa tes lebih dari 10 ribu."
Menurut sang presiden, peningkatan jumlah tes berarti memperluas jangkauan pemerintah dalam mendeteksi virus Corona. Hal ini tentu penting untuk pengendalian penyebaran penyakit.
Perluasan jangkauan pun, imbuh Jokowi, bisa mengurangi penumpukan pemeriksaan sampel. Terutama di wilayah-wilayah yang menjadi pusat atau episentrum penyebaran wabah virus Corona.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menuturkan, sejauh ini sudah ada 26.500 orang di seluruh Indonesia yang menjalani tes PCR. Memang angka itu merupakan kemajuan, namun Jokowi meminta agar jangkauan pemeriksaan tetap diperluas.
"Saya ingin tes PCR ini betul-betul bisa diperluas jangkauannya," terangnya, dilansir dari CNN Indonesia. "Dan mengurangi tumpukan pemeriksaan sampel, terutama di daerah episentrum."
Oleh karena itu Jokowi sekaligus menegaskan saat ini sudah ada 29 laboratorium di berbagai daerah yang bisa melaksanakan tes PCR. Selain itu, Jokowi juga mengapresiasi Kementerian BUMN yang berhasil mengadakan 18 buah alat tes PCR yang diklaim bisa memeriksa ribuan sampel per hari.
"Sehari satu alat bisa 500 PCR berarti kalau 18 berarti per hari bisa tes sembilan ribu PCR per harinya," pungkas Jokowi. "Ini sangat baik."
Sebelumnya Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga, membenarkan bahwa pihaknya baru saja mengadakan sejumlah alat tes PCR yang mampu memeriksa 10 ribu spesimen dalam sehari. "Kalau gini, dalam sebulan kita bisa capai hampir 300 ribu orang yang sudah di tes sehingga bisa mengejar dengan PCR untuk memastikan apakah orang tersebut positif Corona atau tidak," ujar Arya, Rabu (8/4).
(wk/elva)