Seorang pekerja di Pemakaman Ferncliff di Westchester, menyebutkan bahwa sedikitnya ada 200 jenazah yang dikremasi selama 16 jam setiap hari, tujuh hari dalam seminggu.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 14 April 2020 - 10:40 WIB
WowKeren - Seorang pekerja tempat pemakaman di New York mengeluhkan permintaan kremasi maupun penguburan jasad pasien virus corona (COVID-19) yang terus meningkat tajam. Pekerja bernama Philip Tassi tersebut mengklaim bahwa tingginya angka kematian akibat corona di New York membuat pihak pemakaman kewalahan bukan main.
Tassi yang bekerja di Pemakaman Ferncliff di Westchester, yang berlokasi beberapa mil dari Manhattan mengklaim bahwa permintaan penguburan dan kremasi yang diterima meningkat hingga 300 persen selama pandemi corona. "Permintaan penguburan dan kremasi yang kami terima meningkat 300%" tuturnya.
Philip Tassi juga menyebutkan bahwa sedikitnya ada 200 jenazah yang dikremasi selama 16 jam setiap hari, tujuh hari dalam seminggu. Ia juga mengklaim bahwa para pekerja di pemakaman sama sekali tak memiliki waktu untuk istirahat demi mengurus mayat-mayat tersebut.
Disebutkan bahwa kebanyakan pemakaman tak memiliki unit pendingin, sehingga mayat korban tak bisa dibiarkan terlalu lama. "Masalah utama kami adalah kami tak punya penyimpanan jenazah untuk waktu lama," ungkap Philip Tassi lagi.
"Aku belum pernah melihat kasus seperti ini sepanjang hidupku. Begitu banyak orang mati dalam waktu singkat," lanjutnya, yang mengaku sudah 23 tahun berkecimpung dalam pekerjaan ini. "Bahkan ketika serangan 11 September pun tidak sebanyak ini."
Sebagai informasi tambahan, New York sendiri menjadi kawasan dengan kasus COVID-19 terbanyak di Amerika Serikat dan disebut sebagai pusat penyebaran corona di AS. Hingga kini, New York sendiri telah mencatatkan 195,655 kasus positif virus corona. Dari angka itu, 168,510 pasien dikonfirmasi telah pulih, dan ada lebih dari 10 ribu jiwa yang dinyatakan meninggal dunia.
Meski jumlah kematian akibat COVID-19 telah menembus angka 10 ribu, namun Gubernur Andrew Cuomo justru menyebut kalau situasi terburuk wabah virus corona di New York telah berakhir. Bukan tanpa alasan, Cuomo menyebut kalau New York mencatatkan penambahan 671 kematian dalam 24 jam terakhir, yang merupakan angka terendah sejak 5 April. Sedangkan angka tertinggi sebanyak 799 dilaporkan pada Kamis pekan lalu.
"Yang terburuk sudah berakhir bila kita berpikir ke depan. Saya percaya kita sekarang sedang bergerak menuju kondisi normal," kata Cuomo. "Saya percaya kita sekarang bisa mulai pada jalan menuju keadaan normal," lanjut Cuomo.
Gubernur New York tersebut juga mengaku kalau ia sedang mengerjakan rencana untuk secara bertahap membuka kembali perekonomian. "Kami membalik saklar, dan semua orang keluar dari rumah mereka, masuk ke mobil mereka, saling melambai dan berpelukan, dan ekonomi akan mulai," tegasnya.
(wk/luth)