Pengguna Berbayar Zoom Bisa Amankan Data Pribadi, Bagaimana Dengan 'Kaum Gratisan'?
Dunia

Aplikasi Zoom akan mengizinkan pengguna berbayar memilih server untuk mengamankan datanya mulai 18 April 2020 mendatang. Apakah keistimewaan tersebut juga bisa dirasakan pengguna non-berbayar?

WowKeren - Zoom sempat menjadi primadona saat awal-awal ditetapkannya kebijakan social distancing dan lockdown demi mencegah penyebaran virus corona. Zoom merupakan sebuah aplikasi komunikasi dengan menggunakan video yang mengandalkan sejumlah perangkat seperti seluler, desktop, telepon dan sistem ruang.

Alasan aplikasi ini menjadi primadona dikarenakan memudahkan pekerjaan dari rumah di tengah pandemi. Sayangnya, sejumlah permasalahan muncul, salah satunya adalah terkait privasi dan keamanan.

Meski begitu, Zoom mengumumkan untuk pengguna berbayar dapat mengalihkan panggilan ke data center (pusat data) yang ada di sembilan wilayah mulai 18 April 2020. Kesembilan wilayah tersebut antara lain Australia, Kanada, Tiongkok, Eropa, India, Jepang, Hong Kong, Amerika Latin, dan Amerika Serikat.


"Mulai 18 April, setiap pelanggan Zoom yang berbayar dapat memilih atau keluar dari wilayah pusat data tertentu," ungkap Pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan pada laman blog resmi Zoom. "Ini akan menentukan server rapat dan konektor Zoom yang dapat digunakan untuk terhubung ke webinar yang Anda hosting dan memastikan layanan kualitas terbaik. Opsi ini memberikan kontrol yang lebih besar terhadap data dengan jaringan global kami."

Fasilitas tersebut merupakan buntuk dari laporan The Citizen Lab yang mengungkapkan bahwa selama ini Zoom menggunakan kunci AES-256 untuk mengenkripsi audio dan video saat pengguna menggunakan layanan mereka dan dikirim ke server pusat di Tiongkok. Zoom sendiri diketahui memiliki 700 karyawan dari tiga perusahaan berbeda di China untuk mengembangkan layanan.

Sayangnya, penawaran dan fasilitas ini tidak ditujukan bagi pengguna gratisan. Seperti yang diketahui sebelumnya, Zoom sempat dituduh mengirimkan data ke Facebook tanpa sepengetahuan pengguna. Data tersebut tetap dikirim sekalipun pengguna tak memiliki akun Facebook sekalipun.

Selain itu, permasalahan Zoombombing juga kerap menjadi alasan mengapa aplikasi videoconference ini kini dilarang di sejumlah negara. Zoombombing sendiri adalah serangan yang dilancarkan hacker berupa gangguan dari luar yang membajak konferensi video dengan mengirim gambar-gambar tidak senonoh atau ujaran kebencian disertai ancaman.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait