Telah menerapkan lockdown sebagai langkah memutus rantai penyebaran virus corona (COVID-19) , berapa kerugian yang harus ditanggung Italia di bulan pertama?
- Ruth Meliana
- Rabu, 15 April 2020 - 13:29 WIB
WowKeren - Pemerintah Italia telah memutuskan untuk melakukan lockdown setelah kasus virus corona (COVID-19) melesat tak terkendali. Meski penutupan wilayah di Italia dilaporkan mulai mengurangi penyebaran virus corona, namun kebijakan tersebut telah membawa dampak ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negeri itu.
Dilansir dari BBCNews, Italia telah mengalami sejumlah kerugian dalam sektor ekonomi di bulan pertama saat menerapkan lockdown. Laporan ini berdasarkan Lembaga Statistik Nasional Italia (ISTAT) terhadap situasi ekonomi Italia, pada Selasa (7/4) lalu.
Perdana Menteri Italia Guiseppe Conte mulai memerintahkan lockdown sejak 9 Maret lalu. Saat itu, Kementerian Kesehatan mencatat 9.172 kasus positif virus corona dengan kematian sebanyak 463 jiwa.
Selanjutnya, Conte pada 22 Maret mengumumkan agar seluruh perusahaan di Italia yang melakukan kegiatan produksi tidak penting untuk tutup. Perintah ini dilakukan guna mengurangi jumlah orang di luar rumah sehingga wabah tidak semakin menyebar.
Akibatnya, separuh perusahaan Italia tutup dan 7,4 juta pekerja sudah tidak bekerja lagi berdasarkan data ISTAT. Hal ini membuat Italia mengalami pukulan ekonomi terbesar sejak Perang Dunia Kedua. Apalagi, Italia merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke delapan di dunia menurut IMF.
”Jika ini lockdown berlanjut, Produk Domestik Bruto (PDB) Italia dalam enam bulan pertama tahun ini akan jatuh,” jelas Pakar Ekonomi Matteo Pignatti pada Center for Confindustrial Studies (CSC), seperti dilansir dari BBCNews pada Rabu (14/4). “Kerugian mencapai 10 persen atau sekitar US$4,5 miliar.”
Sektor lain yang paling terpukul adalah pariwisata, perdagangan, dan transportasi. ISTAT melaporkan jika lockdown telah membuat banyak industri pariwisata harus tutup.
Padahal, selama ini sektor pariwisata telah menyumbang 13,2 persen dari keseluruhan PDB Italia berdasarkan data Pengamat Turisme Nasional Italia (ONTIT). Sektor pariwisata juga telah mempekerjakan lebih dari 14% penduduk Italia, yaitu sekitar 3,5 juta orang.
”Virus corona telah menghapus lebih dari 50 tahun industri pariwisata” kata Presiden Assoturismo (organisasi yang memayungi puluhan ribu perusahaan di sektor pariwisata), Vittorio Messina. “Kami mengalami situasi yang dramatis. Tahun lalu orang bicara tentang overtourism, yaitu dampak buruk kehadiran turis di sebuah wilayah. Kini, masalah kami adalah zero tourism.”
Hingga tahun 2019, Italia merupakan negara kelima terbesar di dunia untuk kedatangan wisatawan internasional, yaitu sekitar 60 juta orang. Negara ini juga menghasilkan pendapatan sebesar 42.000 juta euro.
Sekretaris Serikat Buruh Pariwisata CGIL Italia, Grazia Gabrielli memperhitungkan sebanyak 450.000 orang pekerja musiman di sektor pariwisata akan kehilangan pekerjaan. Dampaknya, pengangguran di seluruh negeri akan meningkat.
Kini, PM Italia yakni Conte berusaha mengantisipasi ancaman ekonomi di negaranya. Ia mengaktifkan skema pinjaman perusahaan dengan nilai total US$435.000 juta. Sebelumnya pada bulan Maret pemerintah sudah mengucurkan 380.000 juta euro. Secara keseluruhan, jumlah tersebut hampir setengah PDB Italia.
Dana ini ditujukan untuk membiayai tunjangan pengangguran, serta membantu kesulitan perusahaan. Dengan skema ini, mereka yang kehilangan pekerjaan karena harus tinggal di rumah akan dijamin oleh pemerintah.
Pemerintah menjamin 80 persen gaji mereka. Selain itu, pemerintah juga menyediakan bantuan kupon makanan bagi penduduk miskin dan warga yang butuh mencari perawat bayi.
Kerugian yang dialami Italia tersebut dinilai masih terus meningkat seiring belum dicabutnya kebijakan lockdown. Conte sendiri telah menyatakan jika opsi lockdown masih dilakukan hingga 3 Mei. Namun, opsi tersebut masih bisa diperpanjang jika masih ada 1.000 kasus positif COVID-19 per hari.
(wk/lian)