Padahal sebelumnya pemerintah Jerman sempat berencana untuk melonggarkan lockdown paling cepat pada 27 April lantaran melihat kasus penularan COVID-19 yang makin menurun.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 16 April 2020 - 14:58 WIB
WowKeren - Kanselir Jerman Angela Merkel baru saja melakukan konferensi pers untuk keputusan terkait kebijakan lockdown pada Rabu (15/4) waktu setempat. Rupanya, pemerintah Jerman mengumumkan untuk memperpanjang kebijakan lockdown yang awalnya dijadwalkan berakhir pada 19 April nanti menjadi 3 Mei mendatang. Keputusan tersebut dilakukan untuk memperlambat penyebaran virus corona (COVID-19).
Disebutkan ada perwakilan dari 16 negara bagian di Jerman yang melakukan pertemuan dengan Kanselir Angela Merkel untuk menarik keputusan jelang batas akhir lockdown ini. Dalam pertemuan tersebut Merkel dan para perwakilan sepakat untuk memperpanjang lockdown selama dua pekan meskipun laporan penularan corona di Jerman terus mengalami penurunan.
Padahal sehari sebelumnya, pemerintah Jerman diketahui sempat berencana mempertimbangkan untuk melonggarkan lockdown paling cepat pada 27 April. "Saat ini infeksi virus corona telah stabil setelah sempat berada pada tingkat yang relatif tinggi. Tidak ada tanda yang jelas saat ini jika kasus tersebut akan menurun," tutur Kepala Robert Koch Institute (RKI) untuk badan kesehatan masyarakat Jerman, Lothar Wieler, pada Selasa (14/4).
"Mengingat momentum saat ini, tidak ada perkiraan pasien yang dirawat akan bertambah. Dibandingkan negara lain, kondisi kami saat ini baik-baik saja," lanjutnya. "Kita harus tetap disiplin di minggu-minggu terakhir. Sementara tren infeksi menuju ke arah positif, namun belum bisa dikatakan jika kasus ini telah berakhir."
Sementara itu, Juru bicara kanselir Jerman, Steffen Seibert, dalam pernyataannya mengatakan kebijakan lockdown telah berimbas pada perekonomian Jerman yang saat ini menghadapi resesi. "Langkah yang harus kita tempuh dalam beberapa pekan ke depan merupakan bagian dari upaya pelonggaran lockdown yang diputuskan secara hati-hati untuk mempertahankan usaha keras melawan pandemi," kata Seibert.
Akademi sains Leopoldina Jerman juga menerbitkan sebuah makalah yang menguraikan langkah-langkah yang pertama kali dilakukan saat lockdown dicabut. Secara bertahap, pemerintah bisa mulai membuka sekolah dan mengharuskan semua orang mengenakan masker saat di luar ruangan.
Sementara itu, hingga saat ini Jerman telah mencatatkan sebanyak 134,753 kasus positif virus corona. Dari jumlah tersebut, 3,804 pasien dinyatakan meninggal dan 77,000 lainnya telah sembuh. Jerman sendiri menjadi negara kelima yang mencatatkan kasus COVID-19 terbanyak di dunia, mengekor di bawah Amerika Serikat (AS), Spanyol, Italia, dan Prancis.
(wk/luth)