Virus corona (COVID-19) berpotensi merusak sejumlah organ-organ vital, peneliti menduga ‘badai sitokin’ sebagai pemicu utama terjadinya kerusakan fatal tersebut. Apa itu?
- Ruth Meliana
- Jumat, 17 April 2020 - 12:38 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini telah menembus lebih dari 2 juta kasus di seluruh dunia. Berbagai penelitian pun terus dilakukan terhadap virus baru yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 lalu.
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga Jumat (17/4), angka kematian akibat COVID-19 mencapai 144.221 orang. Sementara pasien yang dinyatakan sembuh dari virus corona tercatat lebih tinggi berjumlah 543.732 orang.
Tentunya, sejumlah penelitian terus dilakukan untuk mengetahui mengapa virus ini dapat berakhir fatal dengan membunuh ratusan ribu orang. Sedangkan di sisi lain, COVID-19 tidak memberikan efek yang signifikan bagi sebagian besar korban.
Dilansir dari The Washington Post, penelitian terbaru menyatakan jika virus corona ini berpotensi merusak sejumlah organ vital. Selain paru-paru, virus ini disebut dapat berakibat fatal terhadap fungsi ginjal, jantung dan hati.
Virus corona disebut dapat menjadi mematikan bagi penderita ketika kantung udara kecil di paru-paru meradang dan tersumbat. Kondisi ini akan membuat pasien kekurangan pasokan oksigen yang berujung pada kerusakan sejumlah organ vital bagi kehidupan manusia.
COVID-19 berpotensi menyebabkan peradangan jantung, penyakit ginjal akut, kerusakan neurologis, pembekuan darah, dan masalah pada organ hati sehingga tubuh akan kehilangan fungsi normal. Hal ini mempersulit perawatan kasus corona dengan gejala parah sehingga proses pemulihan menjadi kurang pasti.
Walaupun banyak organ vital yang terserang virus corona, namun ini tidak menandakan jika virus menyebar dan merusak tubuh sepenuhnya. Dugaan awal kerusakan organ muncul akibat badai sitokin.
Sitokin merupakan protein yang dimanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi dan penting dalam penanda sinyal sel. Mereka mengumpulkan sel-sel imun menuju sel yang terinfeksi.
Saat tubuh terserang virus coroan, maka sistem imun akan langsung melepaskan sitokin ke dalam paru-paru. Kondisi ini cukup berbahaya jika jumlah sitokin yang keluar sangatlah banyak. Pasalnya, sitokin tidak hanya menyerang sel yang terinfeksi saja tetapi juga jaringan sehat.
Berawal dari ini, tubuh pasien COVID-19 akan memiliki banyak masalah yang berpotensi merusak organ-organ vital. Pasalnya, badai sitokin akan menciptakan peradangan yang melemahkan pembuluh darah di paru-paru dan menyebabkan cairan meresap ke kantung udara.
Ahli Nefrologi dari Yale School of Medicine di Amerika Serikat, Alan Kliger menjelaskan saat ini hampir separuh pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit telah menunjukkan kerusakan dini pada ginjal. “Saya pikir sangat mungkin virus menempel pada sel-sel ginjal untuk menyerang organ tersebut," jelas Kliger seperti dilansir dari The Washington Post, Jumat (17/4).
Berdasarkan studi dari jurnal medis Kidney International pada 9 April 2020 lalu, sebanyak 14 hingga 30 persen pasien COVID-19 telah mengalami gagal ginjal dan harus menjalani prosedur cuci darah. Bahkan, 9 dari 26 pasien corona meninggal dunia akibat cedera ginjal akut. Data ini diambil dari pasien intensif di New York, AS dan Wuhan, Tiongkok.
”Ini menimbulkan kecurigaan yang sangat jelas bahwa setidaknya sebagian dari cedera ginjal akut yang kita lihat disebabkan oleh keterlibatan virus langsung dari ginjal,” kata Ahli Nefrologi dari University of Pittsburgh School of Medicine, Paul. M. Palevsky. “Yang berbeda dari apa yang terjadi saat ada wabah SARS pada tahun 2002.”
Selain itu, virus corona juga bisa merusak jantung. Dokter di Tiongkok dan New York telah melaporkan COVID-19 dapat memicu miokarditis, peradangan otot jantung, dan yang lebih berbahaya adalah irama jantung tidak teratur. Hal ini telah menyebabkan 19 pasien meninggal dunia akibat jantung berhenti.
Meski demikian, badai sitokin dinilai tidak menjadi faktor tunggal. Sejumlah faktor lain seperti pengobatan yang diterima pasien hingga tekanan psikis yang mereka alami saat harus menjalani perawatan di ICU turut menjadi pemicu kematian pasien COVID-19
(wk/lian)