Hokkaido dianggap sukses menangani virus corona. Namun, keberhasilan tersebut terancam ‘gagal’ setelah pulau di Jepang itu mulai menghadapi gelombang kedua wabah COVID-19.
- Ruth Meliana
- Jumat, 17 April 2020 - 14:09 WIB
WowKeren - Hokkaido yang merupakan pulau terbesar kedua di Jepang dianggap sukses dalam menangani kasus virus corona (COVID-19). Pulau ini dinilai telah berhasil dalam menahan, melacak, hingga mengisolasi kasus virus corona.
Seperti yang diketahui, Hokkaido menjadi lokasi pertama di Jepang yang mengumumkan keadaan darurat akibat virus corona. Secara sigap, otoritas setempat langsung menutup sekolah-sekolah, membatalkan sejumlah acara kumpul-kumpul dan meminta warga untuk tinggal di rumah saja.
Pemerintah daerah pun terus melakukan tracing (pelacakan) secara agresif kepada orang-orang yang diduga pernah berkontak dengan pasien positif virus corona. Dampaknya, kasus corona di Hokkaide menurun drastis pada pertengahan Maret, dengan hanya satu atau dua kasus saja per hari.
Pemerintah Hokkaido pun akhirnya mencabut keadaan darurat pada tanggal 18 Maret dan warga sudah dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, kini 18 hari sesudah situasi darurat dicabut, Hokkaido kembali memberlakukan keadaan darurat.
Rupanya, Hokkaido sedang menghadapi ancaman gelombang kedua dari wabah virus corona. Minggu lalu, wilayah ini kembali menemukan 135 kasus positif COVID-19 baru.
Berbeda dari gelombang pertama pada Februari lalu, kasus-kasus baru ini bukan berupa imported case atau dari orang yang kembali dari luar Jepang. Gelombang kedua ini justru tidak berasal dari orang asing tapi dari warga mereka sendiri.
Ancaman ini membuat dunia mulai bisa belajar dari Hokkaido. Pelajaran pertama adalah dunia bisa mengatasi penyebaran kasus virus corona dengan kunci bertindak cepat dalam melakukan pelacakan dan isolasi.
“Sebetulnya relatif mudah untuk mengatasi gugus penularan,” kata Profesor Kenji Shibuya dari King's College London seperti dilansir dari BBC, Jumat (17/4). “Caranya dengan mengontak, melacak dan mengisolasi.”
“Pihak berwenang cukup berhasil dengan pendekatan pengendalian gugus penularan,” sambungnya. “Jepang termasuk yang paling awal dalam fase penyebaran wabah ini. Penyebaran berhasil dilokalisir dan dianggap berhasil.”
Meski cara ini dianggap sukses, namun dunia juga harus belajar dari kesalahan Hokkaido agar terhindar dari ancaman gelombang kedua. Situasi yang terjadi di Hokkaido ini dinilai hampir sama dengan wabah corona yang terjadi di Daegu, Korea Selatan.
Setelah melakukan pelacakan kepada orang-orang yang kemungkinan berinteraksi dengan pasien virus corona, Pemerintah Korea Selatan langsung melakukan tes massal untuk melacak pandemi. Hal ini berhasil menurunkan presentase kasus secara signifikan.
Namun, hal berbeda justru dilakukan Pemerintah Jepang. Setelah melakukan pelacakan, mereka hanya melakukan tes terhadap sejumlah presentase kecil saja dari populasi mereka saja.
Bahkan, Pemerintah Jepang sempat mengatakan jika tes massal hanya membuang-buang sumber daya saja. Namun akibat kasus Hokkaido yang mulai menunjukkan adanya gelombang kedua kasus corona, Pemerintah Jepang merubah sikap dan menyatakan akan segera mempercepat pengetesan.
”Kita sedang berada di tengah-tengah fase ledakan dari wabah," jelas Kenji. “Pelajaran utama dari Hokkaido adalah: bahkan ketika kita mampu menahan penyebaran virus itu pertama kali, sulit untuk mengisolasi dan memelihara pertahanan itu dalam jangka panjang. Hanya dengan memperluas kemampuan pengetesan kita bisa mengidentifikasi penyebaran antar warga dan penyebaran di rumah sakit.”
(wk/lian)