Meski angka kesembuhan global terus merangkak naik, sejumlah negara masih menghadapi lonjakan kasus corona. Beberapa negara disebut belum mencapai puncak penyebaran wabah corona.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 30 April 2020 - 13:44 WIB
WowKeren - Lebih dari satu juta pasien virus corona (COVID-19) dinyatakan sembuh. Berdasarkan data statistik dari laman worldometers.info, per Kamis (30/4) ada sebanyak 1,000,300 orang dinyatakan sembuh dari total 3,219,481 pasien. Hal ini berarti sepertiga pasien COVID-19 secara keseluruhan berhasil pulih dari virus tersebut.
Di sisi lain, jumlah kematian akibat virus corona di dunia telah mencapai 228,201 jiwa berdasarkan data yang sama. Sejauh ini, masih ada 1,990,980 pasien corona di dunia yang masih dalam perawatan.
Pasien corona yang sembuh di Spanyol menjadi yang terbanyak sejauh ini yakni mencapai 132,929 jiwa dari total 236,899 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di negara tersebut. Sedangkan negara kedua dengan pasien corona yang sembuh terbanyak yaitu Amerika Serikat (AS) yakni sebanyak 120,444 pasien.
Kendati demikian, Amerika Serikat juga masih menjadi negara dengan kasus corona tertinggi di dunia sejauh ini. Tercatat, negara yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump tersebut telah mengonfirmasi sebanyak 1,038,451 kasus corona.
Sementara itu, meski angka kesembuhan global terus merangkak naik, sejumlah negara masih menghadapi lonjakan kasus corona. Beberapa negara disebut belum mencapai puncak penyebaran wabah corona. Sejumlah negara seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan bahkan disebut tengah bersiap menghadapi gelombang kedua penyebaran virus tersebut.
Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Gehebreyesus, juga mengingatkan kembali bahwa perkembangan pandemi COVID-19 di seluruh dunia saat ini masih jauh dari berakhir. Ia mengatakan WHO akan terus meningkatkan kepedulian terkait laporan meningkatnya kasus COVID-19 di Afrika, Eropa timur Amerika Latin, dan beberapa negara Asia.
"Pandemi ini masih jauh dari berakhir. Beberapa negara, kasus dan angka kematiannya tidak dilaporkan karena kapasitas pengujian yang rendah," ujarnya dalam konferensi pers di kantor pusat WHO di Jenewa pada Senin (27/4) lalu, dikutip dari CNN.
(wk/luth)