Presiden Joko Widodo tampaknya sudah mengantongi sejumlah poin evaluasi usai Indonesia dibuat geger dengan pandemi COVID-19. Salah satu yang sangat disoroti adalah perilaku impor di sektor kesehatan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 30 April 2020 - 16:33 WIB
WowKeren - Indonesia masih harus berjibaku dengan pandemi COVID-19 yang belakangan sudah menginfeksi lebih dari 9 ribu orang. Berbagai masalah seolah terus bermunculan di tengah wabah, tak hanya dari segi kesehatan, tetapi juga aspek-aspek lain.
Baru-baru ini Presiden Joko Widodo bahkan tak malu mengakui adanya sejumlah "dosa" bangsa yang baru tampak setelah wabah mendera. Hal ini Jokowi sampaikan saat meresmikan pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2020 di Istana Merdeka, Jakarta.
"Sekarang kelihatan semuanya," kata Jokowi, Kamis (30/4). Yang Jokowi maksud adalah perihal kekurangan-kekurangan yang dimiliki Indonesia saat menghadapi suatu bencana.
Menurutnya wabah COVID-19 ini sekaligus untuk mengukur seberapa kuat ketahanan nasional dalam menghadapi suatu bencana. Tak hanya dari satu aspek, yakni meliputi ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, sampai ketahanan pangan.
"Seberapa besar ketergantungan kita pada negara lain," terangnya, seperti dikutip dari CNBC Indonesia. "Dalam situasi ini kita bisa melihat, menghitung lagi berbagai potensi di dalam negeri yang belum terbuka dengan maksimal untuk kita manfaatkan."
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini lantas mencontohkan sektor kesehatan Indonesia. Menurutnya saat ini bahan baku obat-obatan di Indonesia mayoritas masih mengimpor dari negara lain, menunjukkan bahwa Bumi Pertiwi belum bisa mandiri.
"Bahan baku obat kita saat ini masih impor. 95 persen masih impor," kata Jokowi. "Alat kesehatan yang bisa kita produksi sendiri apa saja, yang kita bisa beli dari negara lain? Sekarang kelihatan semua."
"Rasio dokter, rasio perawat, apakah cukup menghadapi situasi ini?" imbuh Jokowi. "Negara kita juga punya persoalan di berbagai sektor. Ada penyakit menular seperti TBC, bagaimana ketersediaan rumah sakit kita?"
Di sisi lain ketersediaan rumah sakit dan paramedis memang menjadi sorotan utama kala wabah seperti saat ini. Sebab, sebagai pembanding, sudah banyak paramedis, entah dokter maupun perawat, yang harus mengembuskan napas terakhir pasca berjuang sebagai garda terdepan di tengah pandemi COVID-19.
Selain itu COVID-19 pun bukanlah satu-satunya penyakit yang dihadapi Indonesia. Seperti misalnya demam berdarah dengue (DBD) yang diam-diam menginfeksi banyak nyawa khususnya di Nusa Tenggara Timur.
(wk/elva)