Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berencana untuk memperpanjang status darurat nasional terkait wabah corona pada 4 Mei mendatang. Hal ini diungkapkan setelah berdiskusi dengan para ahli.
- Nidya Putri
- Sabtu, 02 Mei 2020 - 09:50 WIB
WowKeren - Jepang merupakan salah satu negara di Asia dengan kasus terinfeksi virus COVID-19 yang cukup banyak. Hingga kini, tercatat ada 14.305 kasus positif virus corona di Negara Matahari Terbit tersebut.
Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe pun memngatakan akan meninjau status darurat nasional terkait pandemi virus corona pada 4 Mei mendatang. Abe mengaku berencana memperpanjang status tersebut hingga sebulan.
Seperti yang diketahui, Jepang telah menetapkan status darurat nasional corona pada 7 April lalu, dan akan berakhir pada 6 Mei 2020. "Akan sulit untuk kembali ke kehidupan sehari-hari pada 7 Mei. Karena negara perlu bersiap untuk pertempuran yang berlarut-larut," ujarnya dilansir The Asahi Shimbun.
Abe mengatakan keputusan tersebut diambil setelah bekonsultasi dengan para ahli. Pertemuan spesialis penyakit menular yang menyarankan kabinetnya dijadwalkan dimulai pukul 10 pagi hari Jumat.
"Setelah menerima laporan dari panel para ahli, saya meminta Menteri Nishimura untuk merencanakan perpanjangan status darurat nasional hingga sekitar satu bulan sebagai skenario dasar untuk menyusun rencana yang akan sesuai dengan kebutuhan daerah," kata Abe.
Lebih lanjut, Abe mengatakan Jepang sejauh ini berhasil menghindari peningkatan tajam kasus COVID-19 yang terlihat di beberapa negara. Namun, ia mengingatkan bahwa pihaknya masih perlu waspada. "Pandangan para ahli adalah bahwa kita akan terus membutuhkan kerja sama orang-orang Jepang untuk masa mendatang," imbuhnya.
Perpanjangan darurat nasional memang telah banyak diperkirakan. Meskipun skala wabah yang relatif kecil di Jepang, dengan hampir 14.300 infeksi tercatat dan 432 kematian sejauh ini. Meskipun skala wabah yang relatif kecil, ada kekhawatiran terjadinya lonjakan infeksi yang terus menerus dapat dengan cepat membanjiri sistem kesehatan negara itu.
Sementara itu, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan bahwa situasi ibu kota di tengah pandemi masihlah sulit. Oleh karena itu, ia meminta Kabinet Abe untuk memperpanjang status darurat.
Respons pengguna media sosial berkisar dari pengunduran diri hingga frustrasi karena tidak dapat bertemu kerabat atau teman. Tetapi banyak yang lebih khawatir tentang dampak ekonomi, terutama pada bisnis kecil.
Jepang sendiri baru saja menyetujui pemberian bantuan dana 100 ribu Yen untuk setiap orang. Bahkan pemerintah Jepang telah meluncurkan lebih dari USD 1 triliun untuk melunakkan pukulan ekonomi dari pandemi virus corona.
(wk/nidy)