Belasan Ribu Petugas Medis di Inggris Beli APD Sendiri, Klaim Negara Tak Beri Perlindungan
Dunia

Sekitar 16,343 dokter di Inggris mengatakan masih banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk melindungi petugas medis, meski diyakini stok APD di negara tersebut telah diperbanyak.

WowKeren - Hampir separuh dari total dokter di Inggris dilaporkan membeli Alat Pelindung Diri (APD) sendiri. Berdasarkan hasil survei terbaru dari British Medical Association (BMA), sekitar 16,343 dokter di Inggris mengatakan masih banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk melindungi petugas medis, meski diyakini stok APD di negara tersebut telah diperbanyak.

Dilansir dari Daily Mail pada Senin (4/5), survei yang diadakan oleh BMA pada 28-30 April ini adalah yang terbesar untuk pekerja kesehatan selama wabah COVID-19. Hasil survei menunjukkan 48 persen responden mengatakan mereka mencari APD sendiri atau dicarikan departemennya, atau mendapat sumbangan dari badan amal maupun perusahaan lokal.

Kemudian disebutkan bahwa penerimanya adalah 55 persen dokter umum dan 38 persen dokter di rumah sakit. Hampir dua pertiga dari total dokter Inggris mengatakan, mereka merasa hanya sebagian dilindungi atau bahkan tidak dilindungi sama sekali selama masa pandemi virus corona.

Lalu hampir sepertiga responden atau 30 persen mengatakan, mereka tidak membicarakan APD, kekurangan staf, pengujian, atau kekuarangan obat, karena mereka pikir itu tidak akan membantu. Selain kekhawatiran tentang APD, survei ini juga mengungkapkan dampak tanggapan COVID-19 di Inggris terhadap kesehatan mental pekerja kesehatan di garis terdepan. Lebih dari seperempat dokter mengaku menderita kondisi kesehatan mental, termasuk depresi dan cemas, yang terkait atau diperburuk oleh pekerjaan selama masa pandemi.


Dr Chaand Nagpaul, ketua dewan BMA, mengatakan bahwa data tersebut adalah "kecaman terhadap kegagalan pemerintah memastikan petugas layanan kesehatan di seluruh negeri diberikan peralatan yang memadai."

Nangpaul juga menambahkan, "Masih banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk melindungi pekerja di garis terdepan." Ia juga menyebut situasi APD adalah "kekecewaan semua staf NHS (National Health Service)."

Di sisi lain, lonjakan kasus maupun angka kematian akibat COVID-19 sendiri terus mengalami pertambahan yang signifikan. Inggris sendiri kini berada pada posisi ketiga sebagai negara dengan jumlah kamatian akibat corona tertinggi di dunia.

Inggris diketahui telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi jumlah kematian akibat corona. Salah satunya menginjeksi plasma darah dari pasien corona yang sembuh (konvalesen) kepada pasien corona yang parah. Metode penyembuhan dengan menginjeksi plasma itu, yang bertujuan membentuk antibodi melawan virus, dianggap berhasil menangani pasien pada kasus SARS selama 2002-2004.

Pemimpin Inggris, Ratu Elizabeth II, saat ini juga disebut kebingungan menghadapi lonjakan kasus corona di negaranya. Disebutkan bahwa pemimpin monarki tersebut sempat bertanya pada Perdana Menteri Selandia Baru, tentang cara menghadapi pandemi ini, mengingat negara tersebut diklaim sukses menanangi corona.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait