Inggris Minta Tiongkok Lebih Transparan Soal Corona
Dunia

Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, mengatakan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab Tiongkok tentang krisis COVID-19. Menurutnya Beijng harus bersikap transparan dalam masalah ini.

WowKeren - Inggris meminta Tiongkok agar lebih transparan terkait penanganan mereka melawan wabah virus corona (COVID-19). Sejak wabah tersebut merebak, Tiongkok mendapat sorotan atas cara mereka mengatasi krisis. Inggris sendiri mendesak Tiongkok untuk membuka informasi mengenai masa awal pandemi, terutama sumber dari virus COVID-19 tersebut.

Dikutip Reuters pada Selasa (5/5), Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, mengatakan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab Tiongkok tentang krisis COVID-19. Menurutnya Beijng harus bersikap transparan dalam masalah ini. "Tiongkok harus terbuka dan transparan tentang apa yang disangkalnya," kata Wallace pada Senin (4/5).

Wallace mengaku setiap hari dirinya memperoleh laporan intelijen dari agennya di seluruh dunia. Namun dia enggan mengomentari laporan tersebut. "Saya tidak mengomentari laporan individual, apa yang saya sudah dan belum saya lihat. Itu akan salah," ujarnya.

Konsorsium intelijen Five Eyes yang dipimpin Amerika Serikat (AS) mengatakan Tiongkok telah dengan sengaja menghancurkan bukti penyebaran COVID-19. Tindakan itu dianggap merupakan serangan terhadap transparansi internasional. Informasi tersebut dimuat oleh The Australian Telegraph.

Sebagai informasi tambahan, sejumlah negara di dunia memang beramai-ramai menuding Tiongkok tidak transparan soal data virus corona. Amerika Serikat (AS) adalah pihak pertama yang secara terbuka menyampaikan kecurigaan dan dugaannya bahwa COVID-19 berasal dari laboratorium Wuhan Institute of Virology (WIV). Oleh sebab itu, Washington menyerukan penyelidikan independen untuk menguak asal-usul virus dan cara penyebarannya.


Akan tetapi, Tiongkok dengan tegas membantah semua tudingan tersebut. "Tiongkok menentang pembuatan dan penyebaran disinformasi oleh siapa pun dan organisasi apa pun. Tiongkok adalah korban disinformasi, bukan penggagas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, seperti dikutip dari CNBC.

Geng Shuang juga menegaskan tak ada bukti konklusif bahwa virus corona berasal dari Tiongkok. Dia memperingatkan, manuver politik di balik seruan untuk melakukan penyelidikan independen terhadap asal-usul virus tidak akan berhasil. Geng Shuang juga mengatakan bahwa negaranya telah memberikan informasi yang tepat waktu kepada dunia dan aktif bekerja sama dengan yang lain.

Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok, Le Yucheng, juga menolak keras penyelidikan internasional COVID-19 yang menurutnya bertujuan menstigmakan negaranya. Apalagi sebelum proses dilaksanakan, negaranya sudah diasumsikan bersalah atau bertanggung jawab atas pandemi.

Le lantas mengatakan negaranya sangat terbuka dan jujur. Tiongkok bahkan mendukung pertukaran profesional antar-ilmuwan, termasuk pertukaran untuk meninjau serta merangkum pengalaman. Namun, Le melihat negaranya menghadapi tudingan tidak berdasar, khususnya terkait seruan penyelidikan internasional COVID-19.

"Seseorang seharusnya tidak menuduh Tiongkok terlebih dulu dan kemudian menjalankan apa yang disebut investigasi internasional hanya untuk membuat bukti. Ini adalah penyelidikan sewenang-wenang berdasarkan anggapan bersalah. Itulah yang kami lawan dengan tegas," tutur Le dalam pernyataan resminya.

Dia menilai bahwa penyelidikan internasional harus memiliki dasar yang kuat. Namun, Le mempertanyakan mengapa investigasi itu hanya membidik negaranya. "Apakah ada bukti yang menunjukkan Tiongkok memang memiliki masalah? Mengapa tidak ada investigasi di negara lain?"

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait