Tim Bray, teknisi software senior Amazon memutuskan undur diri karena tak tahan di lingkungan kerja yang toxic. Keputusan ini diambil usai Amazon memecat pegawainya karena mengkritik lingkungan kerja yang tak aman saat wabah corona.
- Nidya Putri
- Rabu, 06 Mei 2020 - 14:25 WIB
WowKeren - Amazon memecat dua karyawan yang bersuara kritis soal respons toko online raksasa itu terhadap pandemi corona pada bulan April lalu. Kedua pegawa tersebut menyuarakan terkait kondisi para pegawai di gudang yang kurang terlindungi dari ancaman virus corona.
Muak melihat kondisi tempatnya bekerja yang memecat para karyawan yang kritis. Tim Bray, teknisi software senior Amazon akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan besar tersebut.
Dalam postingan di blog pribadinya yang berjudul 'Bye, Amazon' Bray yang juga menjabat sebagai Vice President di Amazon Web Services mengatakan Jumat pekan lalu merupakan hari terakhirnya bekerja.
Dikutip dari CNBC, Bray mengatakan ia akhirnya memberontak setelah Amazon memecat Emily Cunningham dan Maren Costa, dua mantan desainer user experience yang mengkritik perlakuan Amazon terhadap pekerja gudang di tengah pandemi virus Corona.
"Saya berhenti dengan kecewa karena Amazon memecat whistleblower yang bersuara tentang karyawan yang ketakutan terhadap COVID-19," tulis Bray dalam blognya. "Dengan tetap menjadi vice president Amazon akan berarti menyetujui tindakan yang saya benci. Jadi saya mengundurkan diri."
Selain memecat karyawan yang menyuarakan kritik terkait kondisi fasilitas kerja di tengah pandemi, perusahaan besutan Jeff Bezos ini makin mendulang kontroversi setelah memecat Chris Smalls, pekerja gudang yang merencanakan mogok kerja di fasilitas di Staten Island, New York.
Pekerja gudang Amazon di Amerika Serikat telah meminta perusahaan untuk menerapkan langkah perlindungan dan keamanan yang lebih ketat di tengah pandemi COVID-19, termasuk menutup fasilitas yang memiliki kasus positif untuk dibersihkan. Seruan itu sendiri telah mendapatkan dukungan dari para karyawan kantor Amazon.
Bray mengatakan, dibandingkan dengan karyawan bergaji tinggi di AWS, pekerja gudang tidak memiliki kekuatan apa-apa dalam struktur perusahaan. Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya sangat senang bisa bekerja di perusahaan seperti Amazon.
Keputusannya untuk berhenti ini sebenarnya akan dapat menimbulkan kerugian finansial yang cukup besar. Namun, keputusan ini harus diambil lantaran demi menghindari budaya kerja yang toxic.
"Dengan gaji big tech dan pembagian keuntungan, ini mungkin akan mengakibatkan kerugian lebih dari satu juta dolar (sebelum pajak), belum lagi pekerjaan terbaik yang pernah saya miliki, bekerja dengan orang-orang yang sangat baik. Jadi saya cukup sedih," tuturnya.
(wk/nidy)