Dale Fisher, salah satu pejabat WHO, bahkan menyebut komentar Presiden AS Donald Trump tentang vaksin corona akan dikembangkan pada akhir 2020 sebagai hal yang prematur.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 11 Mei 2020 - 10:08 WIB
WowKeren - Saat sejumlah negara di dunia mulai mengizinkan pendistribusian remdesivir hingga avigan sebagai obat corona (COVID-19). Namun Dale Fisher selaku pejabat Jaringan Peringatan dan Respons Wabah Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru menyebut vaksin virus tersebut kemungkinan baru akan siap pada akhir 2021 mendatang.
Dikutip dari CNBC pada Senin (11/5), kemungkinan ini dinilai sangat masuk akal, mengingat kebutuhan uji coba Fase 2 dan 3 dari tiap vaksin untuk menjamin keamanan dan kemanjurannya. Selain itu, perlu ada waktu bagi peningkatan produksi dan distribusi, serta pemberian vaksin. "Kami saat ini masih dalam target," tutur Fisher.
"Kami selalu berpikir bahwa sekitar bulan April, Mei, kami akan berada dalam studi tahap 1. Jadi ini berarti vaksin potensial telah ditemukan," ujarnya menambahkan. "Kami sekarang mencobanya pada individu, pada dasarnya untuk melihat apakah vaksin itu aman," imbuhnya.
Lebih lanjut, Dale Fisher menyebut uji coba ini akan memungkinkan pengumpulan data awal untuk menilai apakah vaksin potensial itu benar-benar berfungsi atau tidak sebelum uji coba yang lebih besar terkait keamanan dan kemanjurannya.
Terkait penggunaan obat atau antivirus lainnya dalam pengobatan corona, Dale Fisher menyebut itu masih jauh dari mujarab. Menurutnya, pertahanan terbaik terhadap COVID-19 adalah vaksin yang akan membuat imunitas publik meningkat.
Bahkan Fisher yang juga dikenal sebagai seorang konsultan senior di divisi penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Nasional di Singapura ini menyebut bahwa komentar Presiden AS Donald Trump bahwa vaksin corona akan dikembangkan pada akhir 2020 sebagai hal yang "agak prematur."
Hal serupa juga dinyatakan oleh Severin Schwan, CEO raksasa farmasi Roche, mengaku ragu dengan target waktu yang diusulkan Trump soal vaksin itu. "Saya tidak ragu bahwa karena begitu banyak perusahaan yang mengerjakan vaksin secara paralel, dan seperti yang kita lihat kolaborasi hebat dengan pemerintah, termasuk FDA (BPOM di AS), kita sebenarnya dapat mempercepat persetujuan vaksin," katanya.
"Tapi tetap saja, biasanya butuh bertahun-tahun untuk mengembangkan obat baru. Sebagian besar ahli sepakat bahwa dibutuhkan setidaknya 12 hingga 18 bulan hingga kita melihat vaksin yang tersedia dalam jumlah yang diperlukan untuk pasien," lanjutnya.
Sementara itu, WHO juga mengimbau pada seluruh masyarakat dunia untuk tetap berhati-hati terhadap virus ini hingga vaksinnya ditemukan. Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan mengklaim bahwa virus ini masih akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. "Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama," ujarnya pada bulan April lalu.
Hal tersebut lantaran sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. "Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus," tuturnya.
Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menganjurkan agar negara-negara di seluruh dunia terus berinvestasi dalam meningkatkan sistem antisipasi serta penanganan masing-masing. Sebab WHO menilai sejauh ini hanya 76 persen negara di dunia yang memiliki sistem pengawasan untuk mendeteksi virus.
"Masih ada banyak celah di pertahanan dunia dan tidak ada satu pun negara yang memiliki segalanya," tuturnya menambahkan.
(wk/luth)