Belgia Lirik Metode Unik 'Corona Bubble' Sebagai Pengganti Lockdown, Apakah Itu?
Reuters/Francois Lenoir
Dunia

PM Belgia, Sophie Wilmes, mencetuskan kebijakan baru bertajuk 'Corona Bubble' alias 'Gelembung Corona' untuk mengatasi wabah COVID-19. Berikut penjelasan detailnya.

WowKeren - Berbagai metode pencegahan dan pengendalian wabah COVID-19 terus dilakukan di berbagai negara. Saat ini kebanyakan negara menerapkan lockdown untuk bisa mengatasi wabah virus Corona, namun ternyata ada beberapa wilayah yang mencoba menempuh jalan berbeda.

Salah satunya Belgia yang baru-baru ini mencetuskan metode bertajuk "Corona Bubble" alias "Gelembung Corona". Memang seperti apa kebijakan ini?

Dilansir dari The Guardian, Perdana Menteri Belgia, Sophie Wilmes, meminta masyarakat untuk memilih maksimal 4 orang yang diperkenankan untuk berinteraksi lebih dekat dengan mereka. Atau bisa disederhanakan menjadi sebuah keluarga berhak mengundang maksimal satu keluarga lain.

Orang-orang ini akan menjadi satu kelompok kecil yang disebut "gelembung Corona". Nantinya interaksi saling bertamu hanya boleh dilakukan 4 orang dalam kelompok tersebut tanpa bersinggungan dengan "gelembung" lain.

Belgia sendiri ternyata sudah mulai menerapkan alternatif solusi baru ini, yakni pada Minggu (10/5) kemarin yang bertepatan pula dengan Hari Ibu di daerah Eropa. Hasilnya, pemerintah Belgia mengklaim tak ada lonjakan wabah dengan penerapan kebijakan tersebut.


"Pembatasan kedekatan fisik terhadap seseorang yang kita cintai acapkali tak bisa ditanggulangi," ujar Wilmes. Oleh karena itulah sang PM menerapkan solusi tersebut, meski dengan sejumlah persyaratan.

Seperti misalnya individu dalam kelompok tersebut tak diperkenankan berpelukan atau melakukan aktivitas intim lainnya. Selain itu, pemerintah juga mewajibkan mereka berada dalam jarak 1,5 meter satu sama lain serta sebaiknya bertemu di lingkungan terbuka seperti taman atau teras alih-alih dalam rumah.

Kendati demikian kebijakan unik ini masih menimbulkan prahara tersendiri di kalangan masyarakat Belgia. Seperti disampaikan Karen Phalet, seorang guru besar bidang psikologi di Universitas Katolik Leuven.

"Ide ini tidak dikomunikasikan dengan baik sejak awal," ungkap Phalet. Seperti misalnya 4 tamu yang boleh berkunjung harus berasal dari satu keluarga atau rumah tangga yang sama.

Namun para epidemiologis justru memuji kebijakan ini karena tetap memberikan keleluasaan bagi setiap masyarakat tanpa secara drastis meningkatkan potensi terpapar virus Corona. Lantas bisakah Indonesia menerapkan kebijakan ini?

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait