Profesi Haters Syahrini Jaga Toko Kelontong, Sifat Asli-Kondisi Ekonomi Diungkap Kades
Instagram
Selebriti
Skandal Video Syur Syahrini

Kepala Desa di tempat tinggal MS di Kediri mengungkap kalau wanita yang ditangkap karena mengelola akun haters Syahrini itu sehari-harinya menjaga toko kelontong dan termasuk salah satu pihak yang mendapat bansos imbas COVID-19.

WowKeren - Pemilik akun danunyinyir99, MS, kerap mengunggah beragam rumor soal Syahrini. Belakangan, sosok MS akhirnya diciduk di kediamannya di Kediri setelah dipolisikan oleh tim kuasa hukum Syahrini.

Setelah tertangkap, profesi asli MS akhirnya diungkap oleh polisi. Menurut polisi, MS hanya ibu-ibu biasa yang menaruh rasa benci pada Syahrini karena artis yang akrab disapa Princess itu dianggap merebut mantan kekasih dari seorang publik figur.


"Yang pertama setiap hari ibu rumah tangga. Tapi ibu ini senang bermain media sosial. Kehidupan sehari harinya memang dari sini. Dari followers dia bisa jadi kerjaan dari yang bersangkutan. Dia endorse," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus. "Makanya kemarin saya bilang ada buku tabungan. Tapi menggunakan nama yang lain."

Pemilik Akun Haters Syahrini

Sumber: Facebook

Biasanya, akun gosip bisa mendapatkan banyak uang mulai ratusan ribu hingga belasan juta rupiah jika menerima jasa endorse. Namun hal berbeda justru diungkap oleh Supriyono, Kepala Desa Selorejo tempat MS tinggal.

Menurut Supriyono, MS sosok yang jarang bergaul dengan tetangga. Ia juga jarang bepergian ke luar rumah.

Supriyono juga menyebut MS hanyalah wanita lajang yang tinggal dengan seorang saudara di rumah peninggalan mendiang orangtuannya. Sehari-hari, MS mengelola kios kelontong kecil di depan rumah. Kios tempat berjualan barang kebutuhan sehari-hari seperti sembako atau rokok itu dimodali oleh saudara dari MS. Supriyono menyebut MS adalah salah satu pihak yang akan mendapat bansos sebagai imbas COVID-19.

"Kesehariannya jaga toko itu," kata Supriyono pada Kompas.com. "Dari sisi ekonomi termasuk ekonomi lemah. Pendidikan terakhir kalau ndak salah SMA."

Supriyono dan warga sekitar mengaku kaget saat MS ditangkap. Ia berharap hal ini bisa menjadi pembelajaran untuk masyarakat. "Kalau kalimat merugikan orang lain, akhirnya akan merugikan diri sendiri dan lingkungan," seru Supriyono.

(wk/riaw)

You can share this post!

Related Posts