Prancis Larang Polisi Cekik Tahanan Usai Kasus Kematian George Floyd
AP
Dunia

Menteri Dalam Negeri Prancis, Christophe Castener, mengatakan bahwa metode mencekik leher akan ditinggalkan dan tidak akan lagi diajarkan di sekolah-sekolah kepolisian.

WowKeren - Menteri Dalam Negeri Prancis, Christophe Castener mengatakan, secara resmi mengumumkan bahwa polisi tidak akan lagi melakukan praktik mencekik karena beberapa kasus menyebabkan sesak napas. Polisi yang mencekik tahanan memicu kecaman baru setelah kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam AS yang tewas akibat ulah polisi kulit putih di Minneapolis.

Castener mengumumkan, metode mencekik leher akan ditinggalkan dan tidak akan lagi diajarkan di sekolah-sekolah kepolisian. Pernyataan itu dibagikan ketika Pemerintah Prancis mendapat tekanan yang meningkat untuk mengatasi kebrutalan dan rasisme di dalam kepolisian.

Teknik imobilisasi di mana petugas memberikan tekanan dengan lutut pada tersangka rawan digunakan dalam kepolisian di seluruh dunia dan telah lama menuai kritik. Anggota parlemen Prancis menyerukan agar praktik seperti itu dilarang.

"Saya mendengar kritik, saya mendengar kebencian. Rasisme tidak ada tempat di masyarakat kita, tidak di negara kita," ujar Castener.


Pada Sabtu lalu, setidaknya 23 ribu orang melakukan demonstrasi di kota-kota di sekitar Prancis yang menyerukan protes ketidakadilan rasial dan kebrutalan polisi. Mereka mengabaikan larangan polisi untuk menggelar protes di Paris karena kekhawatiran tentang penyebaran virus corona.

Sementara itu, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.

Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.

Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait