Jumlah Korban Tewas Akibat COVID-19 di AS Diprediksi Tembus 145 Ribu pada Bulan Agustus
Getty Images/Anadolu Agency
Dunia

Prediksi terbaru ini muncul pada hari yang sama ketika Texas melaporkan jumlah rawat inap tertinggi dan 22 negara bagian AS menunjukkan kenaikan tajam jumlah kasus yang dikonfirmasi.

WowKeren - Peneliti dari University of Washington memperkirakan bahwa sekitar 145,728 pasien akan mati akibat virus corona (COVID-19) di Amerika Serikat pada bulan Agustus mendatang.

Prediksi ini meningkat lebih dari 5000 jiwa jika dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Dilansir dari The Jakarta Post pada Selasa (9/6), Institute for Health Metrics memproyeksikan 14,.496 kematian pada Agustus akibat COVID-19.

Prediksi terbaru ini muncul pada hari yang sama ketika Texas melaporkan jumlah rawat inap tertinggi sejauh ini dan 22 negara bagian AS menunjukkan setidaknya kenaikan tajam jumlah kasus yang dikonfirmasi. Di antara negara bagian dengan peningkatan paling tajam adalah Michigan dan Arizona. Sementara Virginia, Rhode Island dan Nebraska justru menunjukkan penurunan terbesar.

Para ahli penyakit menular mengatakan bahwa protes besar di jalan-jalan diadakan di kota-kota besar AS setelah kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd, kemungkinan besar menjadi pemicu kasus baru ini. Diketahui, demonstrasi besar-besaran di sejumlah negara bagian AS akibat kematian Floyd memang berlangsung selama kurang lebih dua pekan terakhir.

Sejauh ini, AS sendiri telah mencatatkan lebih dari 2 juta kasus COVID-19 dengan angka kematian melampaui 113 ribu jiwa. Sebanyak 773 ribu pasien dinyatakan sembuh, sedangkan kasus aktif mencapai 1,140,261 jiwa.

Sebelumnya Ahli Bedah Amerika Serikat, Jerome Adams, telah memperingatkan ancaman gelombang dua pandemi virus corona (COVID-19) akibat unjuk rasa massal yang dipicu kematian George Floyd. Jerome Adams menyebut bahwa gerakan demonstrasi ini membuat ribuan orang yang turun ke jalan berpotensi terpapar virus corona.


"Saya khawatir terhadap konsekuensi kesehatan masyarakat, baik individu dan institusi serta orang-orang yang protes dengan cara yang berbahaya bagi diri mereka sendiri dan bagi kelompok mereka," kata Adams.

Demo anti-rasisme yang bertentangan dengan imbauan jaga jarak fisik ini berpotensi menjadi klaster baru penularan COVID-19. "Berdasarkan cara penyebaran penyakit, selalu ada alasan terjadi klaster baru dan potensi wabah baru," ujarnya menambahkan.

Adams mengatakan potensi peningkatan jumlah infeksi juga akan terus terjadi mengingat ribuan warga terlihat tetap berkerumun di sejumlah Pantai Barat. Sebelumnya, sejumlah pakar medis juga merasa khawatir orang tanpa gejala bisa menularkan virus ketika banyak orang berdekatan sambil teriak dan tak menggunakan masker. Apalagi demonstrasi ini berlangsung di puluhan kota dan negara bagian di AS.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menyatakan bahwa situasi pandemi virus corona semakin memburuk di seluruh dunia. WHO mencatat jumlah tertinggi infeksi virus corona baru setiap hari.

WHO memperingatkan bahwa pandemi virus corona belum mencapai puncaknya, karena jumlah kasus harian secara global masih meningkat. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak seluruh negara untuk melanjutkan upaya penanggulangan.

"Pandemi telah berlangsung selama lebih dari enam bulan, belum saatnya bagi negara mana pun untuk melepaskan diri," ujar Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual pada Selasa (9/6). "Meskipun situasi di Eropa membaik, secara global keadaannya memburuk."

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait