Dr Maria Van Kerkhove menyatakan jika ucapannya telah disalahpahami. WHO mengklarifikasi jika ilmuwan belum menentukan seberapa tinggi potensi OTG dalam menularkan virus.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 10 Juni 2020 - 13:43 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia WHO buka suara mengenai pernyataan mereka yang menyebut jika penularan virus corona (COVID-19) jarang ditularkan dari orang tanpa gejala (OTG). WHO memberikan klarifikasi usai pernyataannya ini menuai kontroversi.
WHO mengklarifikasi jika ilmuwan belum menentukan seberapa tinggi potensi OTG menularkan virus corona ke orang lain. Ahli epidemiologi sekaligus Kepala Teknis COVID-19 WHO, Dr Maria Van Kerkhove menyatakan jika ucapannya tersebut telah disalahpahami.
"Mayoritas penularan yang kita ketahui adalah orang yang memiliki gejala menularkan virus ke orang lain melalui droplet," kata dia dilansir dari StatNews, Rabu (10/6). "Tapi ada sebagian orang yang tidak menunjukkan gejala, dan untuk benar-benar memahami berapa banyak orang yang tidak memiliki gejala, kami belum benar-benar memiliki jawaban itu."
Sebelumnya, ia menyatakan jika penularan virus oleh OTG jarang terjadi. Hal itu merujuk pada penelitian yang dilakukan di beberapa negara.
"Kami memiliki sejumlah laporan dari negara-negara yang melakukan pelacakan kontak yang sangat terperinci," kata Kerkhove, Senin (8/6). "Mereka mengikuti kasus tanpa gejala, mereka mengikuti kontak dan mereka tidak menemukan transmisi sekunder. Ini sangat jarang."
Tak pelak, pernyataannya ini pun menuai reaksi dari sejumlah pihak. Dari pernyataannya itu, ditangkap seolah-olah orang tanpa gejala tidak menularkan virus corona. Padahal, sejumlah riset menyebutkan jika OTG bisa jadi bertanggung jawab atas 50 persen penyebaran virus corona.
"Masih ada ketidakpastian ilmiah, tetapi infeksi dari orang tanpa gejala bisa sekitar 30 hingga 50 persen dari total kasus positif," kata Profesor epidemiologi klinis di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, Liam Smeeth. "Studi ilmiah terbaik hingga saat ini menunjukkan setengah dari kasus positif terinfeksi dari orang tanpa gejala atau pra-gejala.
Inilah yang menyebabkan penyebaran virus ini sulit untuk dibendung. Mengisolasi mereka yang terjangkit, tidak serta merta mampu mencegah kemungkinan mereka telah menularkan virus ini ke orang lain.
(wk/zodi)