Berdasarkan survei online terhadap 1,22 juta siswa sekolah dasar dan menengah, disimpulkan bahwa 10,5 persen siswa berpotensi memiliki masalah kesehatan mental setelah kembali ke sekolah.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 11 Juni 2020 - 18:35 WIB
WowKeren - Sejumlah sekolah di Tiongkok kembali dibuka usai masa lockdown dicabut. Para siswa pun kembali ke sekolah setelah mereka menjalani sistem belajar daring selama kurang lebih dua bulan. Akan tetapi, kecemasan pasca-lockdown muncul lantaran sejumlah media setempat justru melaporkan serangkaian kasus bunuh diri oleh para pelajar.
Jumlah kematian akibat bunuh diri pada para pelajar dilaporkan meningkat setelah mereka kembali ke sekolah. Atas hal ini, setidaknya ada empat delegasi dalam pertemuan parlemen yang mengajukan proposal agar lebih banyak perhatian diberikan pada kebutuhan psikologis siswa.
"Ada beberapa insiden yang memilukan ketika sekolah dibuka kembali. Ini menyoroti pentingnya dan urgensi mempromosikan pengembangan kesehatan mental pada siswa," ujar Wakil Wali Kota Zhuhai selatan, Yan Wu.
Belum lama ini sebanyak 14 kasus bunuh diri siswa sekolah dasar dan menengah ditemukan di sebuah distrik di Shanghai. Wakil wali kota distrik Pudong New Area, Li Guohua, mengatakan jumlah kasus bunuh diri tahun ini lebih tinggi dari angka tahunan dalam tiga tahun terakhir. "Ini adalah puncak gunung es," ujar Li.
Media lokal melaporkan bahwa secara nasional terdapat 18 siswa yang bunuh diri dengan cara loncat dari gedung dalam tiga bulan terakhir. Berdasarkan survei online terhadap 1,22 juta siswa sekolah dasar dan menengah menyimpulkan bahwa 10,5 persen siswa berpotensi memiliki masalah kesehatan mental. Pada akhir April, Kementerian Pendidikan Tiongkok meminta sekolah untuk memperhatikan kesehatan mental, dan menyesuaikan rencana pelajaran sehingga siswa tidak memiliki tekanan akademis.
Sejumlah pemerintah daerah telah melonggarkan rencana pelajaran agar tidak membebani siswa, bahkan membatalkan beberapa ujian. Sedangkan beberapa provinsi seperti Hainan dan Shanghai menyediakan kelas mengajar dengan konsep baru yang bertujuan membantu siswa mengatasi stres dan kesedihan.
"Tujuannya adalah untuk membuat siswa sadar bahwa perasaan stres adalah alami, dan bahwa bagaimana Anda menghadapi stres itu dapat menghasilkan hasil yang berbeda," kata salah satu guru setempat.
Sementara itu, seorang penasihat sekolah di Shanghai yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, pembukaan kembali sekolah setelah lockdown berbeda dengan tahun ajaran baru setelah liburan musim dingin. Dia mengatakan, ada beban kerja yang meningkat ketika siswa berkonsultasi tentang tekanan akademis dan rencana studi setiap pekan.
(wk/luth)