Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat mencatat kenaikan kasus baru 40 persen atau lebih tinggi selama sepekan terakhir. Melonjaknya kasus ini diduga dipicu adanya demo anti-rasisme.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 12 Juni 2020 - 14:20 WIB
WowKeren - Sekitar enam negara bagian di Amerika Serikat dilaporkan tengah bergulat dengan meningkatnya jumlah pasien virus corona (COVID-19) di rumah sakit. Hal ini membuat rumah sakit kehabisan ranjang pasien.
Lonjakan kasus baru-baru ini terjadi di sekitar 12 negara bagian AS, termasuk Texas, North Carolina dan Arizona. Namun, banyak dari negara-negara tersebut juga melihat meningkatnya rawat inap dan beberapa mulai kekurangan tempat tidur unit perawatan intensif (ICU).
Texas mencatat penambahan pasien rawat inap selama tiga hari berturut-turut dan di North Carolina hanya 13 persen dari tempat tidur ICU masih tersedia. Wali Kota Houston mengatakan, kota itu siap untuk mengubah stadion NFL menjadi rumah sakit jika diperlukan.
Sedangkan di Arizona telah mendapatkan rekor jumlah rawat inap hingga 1,291 pasien. Direktur Kesehatan Arizona memerintahkan rencana darurat dan meningkatkan kapasitas ICU. Sekitar tiga perempat dari tempat tidur ICU wilayah itu telah terisi.
Menurut laporan Reuters, Arizona, Utah, dan New Mexico mencatat kenaikan kasus baru 40 persen atau lebih tinggi selama sepekan terakhir dibandingkan dengan tujuh hari sebelumnya. Kasus-kasus baru meningkat di Florida, Arkansas, Carolina Selatan, dan Carolina Utara lebih dari 30 persen dalam sepekan terakhir.
Para pakar kesehatan khawatir akan ada peningkatan infeksi lebih lanjut yang berasal dari protes nasional atas ketidakadilan rasial dan kebrutalan polisi. Pejabat tinggi penyakit menular AS, Anthony Fauci, mengatakan lebih banyak kasus tidak terhindarkan karena lockdown dicabut.
"Kami juga mencatat secara keseluruhan kasus telah turun. Namun, saya pikir apa yang Anda sebutkan tentang beberapa negara sekarang memiliki peningkatan jumlah kasus membuat satu jeda dan sedikit khawatir," kata Fauci.
Sementara itu, peneliti dari Health Institute Harvard memperkirakan jumlah kematian akibat virus corona (COVID-19) di Amerika Serikat mungkin bisa mencapai 200 ribu jiwa pada bulan September mendatang.
Diperkirakan jumlah kematian akan terus meningkat, terlebih lagi dengan adanya pelonggaran lockdown yang terus dilakukan beberapa negara bagian. Padahal, jumlah kasus di negara ini telah mencapai angka 2 juta.
Hingga saat ini, tingkat orang yang melakukan tes corona di AS tetap pada 5 persen atau lebih rendah selama setidaknya 14 hari. Selain itu sejumlah wilayah seperti New Mexico, Utah, dan Arizona masing-masing melaporkan jumlah kasus meningkat sebesar 40 persen per pekan pada minggu ini. Wilayah Florida dan Arkansas juga menjadi titik pusat penyebaran virus pula.
Sejauh ini, AS sendiri telah mencatatkan lebih dari 2 juta kasus COVID-19 dengan angka kematian melampaui 115 ribu jiwa. Sebanyak 808 ribu pasien dinyatakan sembuh, sedangkan kasus aktif mencapai 1,142,942 jiwa.
(wk/luth)