Keluarga Brooks menuntut reformasi kepolisian AS setelah Rayshard tewas akibat ditembak polisi kulit putih. Mereka juga menuntut keadilan untuk warga keturunan Afro-Amerika lain yang jadi korban aksi brutal polisi.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 17 Juni 2020 - 08:46 WIB
WowKeren - Keluarga Rayshard Brooks menuntut keadilan atas kematian pria 37 tahun tersebut, yang tewas usai ditembak seorang polisi kulit putih di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Keluarga Brooks menuntut adanya perubahan atau reformasi kepolisian AS setelah insiden tragis tersebut.
"Kami lelah dan kami frustrasi. Lebih penting lagi, hati kami hancur, jadi kami menuntut keadilan untuk Rayshard Brooks," kata sepupu korban, Tiara Brooks, saat jumpa pers.
"Kepercayaan yang kami berikan ke kepolisian dilanggar. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka ini melalui pengadilan dan perubahan drastis pada departemen kepolisian," tambahnya.
Lebih dari seribu orang memenuhi jalanan di Capitol, Atlanta, pada Senin (15/6) waktu setempat untuk menuntut keadilan bagi Brooks dan warga keturunan Afro-Amerika lain yang jadi korban aksi brutal polisi. "Kami akan menduduki Capitol tiap harinya sampai mereka melakukan pekerjaan mereka," kata Pendeta James Woodall, ketua pembela hak sipil NACCP, pada massa aksi.
Di tengah aksi ini, Majelis Negara Bagian Georgia memulai kembali sidang pada tahun ini dengan agenda membahas Undang-Undang Pidana Kebencian. UU itu dapat meningkatkan hukuman mereka yang berbuat pidana karena alasan ras. Warga di Georgia menuntut keadilan bagi ras minoritas setelah kematian Brooks dan penembakan seorang warga kulit hitam lainnya, Ahmaud Arbery, yang tewas pada Februari lalu.
Wali Kota Atlanta, Keisha Bottoms mengumumkan pihaknya akan segera mereformasi tubuh kepolisian, termasuk mewajibkan polisi menurunkan ketegangan saat berhadapan dengan massa serta mewajibkan polisi bertindak saat melihat koleganya melakukan kekerasan terhadap tersangka.
"Jelas telihat, kita tak lagi dapat menunggu satu hari, satu menit, bahkan satu jam lagi (untuk membuat perubahan)," kata Bottoms, seraya menambahkan kepolisian harus mencari cara yang lebih baik untuk mengendalikan bentrok dengan massa.
Insiden penembakan Brooks ini terjadi pada Jumat (12/6) lalu ketika polisi berupaya menangkap Brooks di sebuah restoran cepat saji Wendy's di Atlanta. Awalnya, karyawan Wendy's melaporkan kepada pihak berwenang bahwa ada pria yang tertidur di dalam mobil di jalur drive-thru restoran. Pria tersebut adalah Brooks.
Biro Investigasi Georgia (GBI) menuturkan aparat lalu bergegas menuju lokasi dan mendapati Brooks tengah terlelap di dalam mobilnya. Polisi lalu melakukan tes kesadaran diri terhadap Brooks.
Brooks dinyatakan mabuk dan menolak untuk ditangkap hingga terlibat perkelahian. Brooks berhasil lolos dan mencoba kabur sambil membawa alat kejut listrik atau taser yang dipegang salah satu petugas. Belum jauh kabur, salah satu petugas yang mencoba menangkapnya melontarkan tembakan sebanyak tiga kali ke arah Brooks.
Saksi mata mengatakan Brooks masih bernapas ketika terbaring di tanah. Pria 37 tahun itu sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal dunia di sana.
Kematian Brooks memicu kembali protes di Atlanta yang merupakan bagian dari aksi demonstrasi luas terkait pembunuhan George Floyd. Brooks dan Floyd merupakan pria Afro-Amerika yang terbunuh oleh polisi AS. Pada Minggu (14/6) malam, polisi antihuru-hara berkumpul di kantor kepolisian dekat lokasi penembakan Brooks. Restoran cepat saji Wendy's pun terbakar diamuk massa.
(wk/luth)