Para petugas yang mengundurkan diri mengaku tidak memiliki perlengkapan dan kurang terlatih. Mereka juga mengatakan keberatan dengan cara polisi yang mengunci leher saat menindak warga dan demonstran.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 18 Juni 2020 - 12:32 WIB
WowKeren - Departemen kepolisian Amerika Serikat menyatakan tengah menghadapi krisis lantaran para perwiranya memutuskan untuk berhenti jadi polisi. Setidaknya empat daerah yang menerima pengajuan pengunduran diri polisi dalam jumlah yang tidak sedikit. Pengunduran ini dilakukan oleh puluhan polisi usai menangani demo besar-besaran yang dipicu kematian George Floyd.
Kepolisian Minneapolis menerima pengunduran diri tujuh petugas sebagai imbas dari kematian Floyd. Juru bicara kepolisian Minneapolis, John Elder, mengatakan jumlah tersebut belum termasuk lebih dari enam petugas yang dalam proses berhenti.
"Orang-orang berusaha untuk meninggalkan pekerjaan (polisi) karena berbagai alasan," ujar Elder, dikutip dari CNN pada Kamis (18/6).
Elder mengatakan petugas yang memilih berhenti mencakup aparat dari berbagai jabatan mulai dari petugas patroli hingga detektif. Tak hanya itu, jumlah ini juga belum termasuk empat orang polisi yang dipecat lantar terlibat dalam kematian Floyd.
Tak hanya kematian George Floyd, kasus kematian Rayshard Brooks, pria kulit hitam yang ditembak polisi di Atlanta juga memicu aksi pengunduran diri petugas keamanan. Dalam sebuah pernyataan, polisi Atlanta mengatakan ada delapan petugas kepolisian yang mengajukan pengunduran diri pada Juni.
"Data personel kami menunjukkan bahwa kami telah menerima pengunduran diri dari dua hingga enam orang per bulan pada 2020," tulis pernyataan resmi tersebut.
Sejak kabar kematian Floyd, Yayasan Kepolisian Atlanta mengatakan telah menerima laporan pengunduran diri 19 petugas. Para petugas yang mengundurkan diri mengaku tidak memiliki perlengkapan dan kurang terlatih. Disamping itu, mereka juga mengatakan keberatan dengan cara polisi yang mengunci leher saat menindak warga dan demonstran.
Di sisi lain, sejak tiga pekan bekalangan ini AS memang menghadapi gelombang demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi ini dipicu akibat kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.
Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.
Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.
Belum mereda demonstrasi akibat kematian Floyd, pekan lalu seorang warga kulit hitam lainnya yakni Rayshard Brooks juga ditemukan tewas usai ditembak oleh polisi di Atlanta, Georgia.
Insiden penembakan Brooks ini terjadi pada Jumat (12/6) lalu ketika polisi berupaya menangkap Brooks di sebuah restoran cepat saji Wendy's di Atlanta. Awalnya, karyawan Wendy's melaporkan kepada pihak berwenang bahwa ada pria yang tertidur di dalam mobil di jalur drive-thru restoran. Pria tersebut adalah Brooks.
Biro Investigasi Georgia (GBI) menuturkan aparat lalu bergegas menuju lokasi dan mendapati Brooks tengah terlelap di dalam mobilnya. Polisi lalu melakukan tes kesadaran diri terhadap Brooks.
Brooks dinyatakan mabuk dan menolak untuk ditangkap hingga terlibat perkelahian. Brooks berhasil lolos dan mencoba kabur sambil membawa alat kejut listrik atau taser yang dipegang salah satu petugas. Belum jauh kabur, salah satu petugas yang mencoba menangkapnya melontarkan tembakan sebanyak tiga kali ke arah Brooks.
(wk/luth)