Virus Corona Disebut Bakal Lebih 'Jinak' Setelah Bermutasi
Health

Epidemiolog menyebut bahwa virus corona yang ditemukan di klaster baru di Beijing merupakan hasil mutasi lantaran berbeda dengan sampel virus yang pertama kali menyebar dari Wuhan.

WowKeren - Zeng Guang, pakar epidemiologi dari Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, menyebut bahwa virus corona (COVID-19) yang menyebar di Beijing baru-baru ini merupakan hasil mutasi. Ia menyebut bahwa virus corona yang ditemukan di klaster baru di Beijing berbeda dengan sampel virus yang pertama kali menyebar dari Wuhan.

Menurut Guang, virus lazimnya selalu melakukan mutasi. Karena untuk berkembang biak, virus harus mencari sel inang, dan terus menerus melakukan adaptasi dengan cara melakukan mutasi. Ini tidak berarti virusnya akan makin berbahaya atau sebaliknya. Yang lebih penting adalah terus memonitor jalur evolusi mutasinya agar bisa mengembangkan vaksin corona atau obatnya.

Virus corona yang kini kembali menyerang Tiongkok baru-baru ini, juga menunjukkan melakukan mutasi, dengan gejala lebih lambat dibanding gejala yang dipicu virus asal dari Wuhan. jumlah mutasi virus terbukti dapat melemahkan serangannya dan tidak lagi mematikan.

Christian Drosten, pakar virologi Jerman dari rumah sakit Charité di Berlin, juga melihat mutasi virus itu secara positif. "Karena dengan begitu virus bisa melakukan reproduksi lebih baik di ruang hidung," ujarnya.


Jika mutasi virus terutama menyerang bagian hidung, virus akan bisa berkembang biak lebih bagus dan akan membuat epidemi virus corona menjadi lebih ringan. "Virusnya tetap bisa menyerang selaput lendir di paru-paru, tapi efeknya orang hanya merasakan seperti flu biasa saja," tambah pakar virologi Jerman itu.

Lewat mutasi, virus corona juga bisa makin lemah dan menghilang. Misalnya virus corona SARS yang mewabah tahun 2002 dan menghilang tahun 2004. Walau begitu, COVID-19 harus tetap diwaspadai, karena tidak ada yang tahu pasti, berapa lama waktu yang diperlukan untuk prosesnya hingga virusnya jadi jinak.

Klaster virus corona terbaru di Tiongkok adalah pasar bahan makanan Xifandi di Beijing. Di pasar ini dilakukan pengolahan ikan salmon impor. Darimana salmon berasal, sejauh ini belum jelas. Tiongkok sendiri mengimpor ikan salmon dari sejumlah negara, antara lain Norwegia, Chile, Australia, Kanada, dan Kepulauan Faroe.

Pemerintah di Beijing dengan cepat menutup pasar Xifandi, dan beberapa blok pemukiman di selatan ibu kota Tiongkok itu. Sekitar 10 ribu pedagang dan pekerja di pasar tersebut kini akan dites secepatnya untuk melacak infeksi corona.

"Hasil pelacakan akan dibandingkan dengan analisa dari negara lain, untuk bisa melacak garis asal-usul virus corona bersangkutan," ujar pejabat kesehatan di Beijing.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait