Pernyataan itu tertuang dalam buku kontroversial Mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, John Bolton, yang berjudul 'The Room Where It Happened'.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 20 Juni 2020 - 08:52 WIB
WowKeren - Mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, John Bolton, menyebut upaya diplomatik AS tahun 2018 untuk pelucutan senjata nuklir Korea Utara merupakan ide Korea Selatan, dan bukan gagasan Presiden Donald Trump.
Dilansir dari CNN pada Sabtu (20/6), pernyataan itu tertuang dalam buku kontroversial Bolton yang berjudul "The Room Where It Happened", yang akan terbit pekan depan. Di dalam buku itu, Bolton menulis tentang pertentangan dengan Trump baik selama dan setelah pertemuan puncak pertama dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, di Singapura pada Juni 2018.
"Seluruh upaya diplomatik adalah ciptaan Korea Selatan. Lebih berkaitan dengan agenda 'penyatuan' daripada strategi serius di pihak Kim atau kami (AS)," kata Bolton dalam bukunya.
Bolton juga mengklaim bahwa Trump sangat ingin mengadakan pertemuan dengan harga berapapun, dan menyatakan Kim telah membuatnya ketagihan di KTT Singapura. Bolton juga mencemooh serangkaian keputusan Trump. Ia menyebut keputusan Trump untuk bertemu Kim di Singapura sebagai kesalahan bodoh. Selain itu keinginan Trump untuk mengundang Kim ke Gedung Putih ia nilai sebagai potensi bencana yang sangat besar.
Sementara itu, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan memang tengah merenggang. Ketegangan Korut dan Korsel ini dipicu oleh tindakan Pyongyang yang meledakkan kantor penghubung inter-Korea di perbatasan.
Korut meledakkan kantor penghubung dengan Korea Selatan di kota perbatasan Kaesong pada Selasa (16/6). Penghancuran kantor itu dilakukan Pyongyang lantaran merasa tak puas dengan Seoul karena tak bisa menghentikan para aktivisnya di perbatasan.
Presiden Korut Kim Jong Un geram dengan ulah aktivis Korsel yang kerap mengirimkan selebaran propaganda anti-Korut ke perbatasannya. Diketahui, sebagian dari aktivis Korsel itu merupakan pembelot dari Korut. Langkah itu dianggap Pyongyang membahayakan negaranya.
Akibat hal itu, adik Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Partai Buruh yang berkuasa, yakni Kim Yo Jong, sempat melontarkan kritik kepada Presiden Moon Jae-in. Dia menyebut Moon telah gagal mengimplementasikan salah satu dari pakta perjanjian 2018. Dia juga mengatakan bahwa Moon telah dan menempatkan lehernya ke dalam jerat pendukung Amerika.
Sebelum meledakkan kantor penghubung, Korut pun telah melontarkan sejumlah ancaman terhadap Korsel. Belum lama ini, Pyongyang menyatakan telah memutus hubungan komunikasi militer dan politik dengan Seoul akibat insiden selebaran propaganda tersebut.
Korut juga telah menolak tawaran pihak Korea Selatan untuk mengirim utusan khusus guna meredakan ketegangan antara kedua negara. Bukan hanya itu, pemerintahan presiden Kim Jong Un tersebut lantas mengaku akan memindahkan pasukan ke daerah-daerah perbatasan kedua negara.
Penolakan itu membawa kemunduran besar pada upaya Presiden Korsel Moon Jae-in untuk menjalin rekonsiliasi yang lebih tahan lama dengan Korut. Langkah itu juga mempersulit upaya untuk membujuk Korut untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya.
(wk/luth)