Angka-angka terbaru dari ONS ini juga mencerminkan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa kelompok kulit hitam dan etnis minoritas lainnya memiliki risiko kematian COVID-19 yang jauh lebih tinggi daripada kelompok kulit putih.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 20 Juni 2020 - 09:46 WIB
WowKeren - Angka kematian akibat COVID-19 di Inggris dan Wales dilaporkan didominasi oleh warga yang diidentifikasi sebagai Muslim, Yahudi, Hindu, atau Sikh. Tingkat kematian COVID-19 warga-warga tersebut lebih tinggi dibandingkan orang Kristen atau mereka yang tidak beragama.
Hal ini disampaikan oleh Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) pada Jumat (19/6) kemarin. Angka-angka terbaru dari ONS ini juga mencerminkan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa kelompok kulit hitam dan etnis minoritas lainnya memiliki risiko kematian COVID-19 yang jauh lebih tinggi daripada kelompok kulit putih.
Pihak ONS sendiri telah memeriksa data COVID-19 dari awal Maret hingga 15 Mei 2020. Dari pemeriksaan data tersebut, tingkat kematian di kalangan Muslim lebih tinggi dibanding kelompok lain. Warga Yahudi, Hindu, dan Sikh juga menunjukkan tingkat kematian yang lebih tinggi.
"Dengan memasukkan data etnisitas, (ini) menunjukkan bahwa sebagian besar dari perbedaan dalam kematian ... antara kelompok-kelompok agama dijelaskan oleh kondisi tempat tinggal anggota kelompok yang berbeda-beda," demikian kutipan laporan ONS dilansir Reuters pada Sabtu (20/6). "Misalnya, tinggal di daerah dengan tingkat kekurangan sosial-ekonomi yang lebih tinggi dan perbedaan susunan etnis."
Lebih lanjut, Kepala ONS Nick Strip mengungkapkan bahwa setelah dilakukan penyesuaian terhadap data di atas ditemukan bahwa laki-laki Yahudi berisiko dua kali lipat dibandingkan dengan laki-laki Kristen. Wanita Yahudi juga disebut berisiko tinggi meninggal karena COVID-19. Stripe menyebut bahwa hal ini perlu dijelaskan dengan penelitian lebih lanjut.
Adapun tingkat kematian di antara pria Muslim Inggris adalah 98,9 per 100 ribu orang, sedangkan untuk wanita Muslim adalah 98,2 kematian per 100 ribu orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok orang yang mengaku tak beragama dalam sensus Inggris 2011.
Tingkat kematian di antara pria tak beragama Inggris adalah 80,7 per 100 ribu orang. Sedangkan untuk wanita tak beragama angkanya lebih rendah lagi, yakni 47,9 kematian per 100 ribu orang.
Temuan ini sejalan dengan statistik yang menunjukkan bahwa orang kulit hitam dan Asia di Inggris serta Wales memiliki risiko kematian akibat COVID-19 yang lebih tinggi. Data menunjukkan bahwa tingkat kematian tertinggi di antara pria kulit hitam adalah 255,7 per 100 ribu orang, sedangkan tingkat kematian pria kulit putih hanya 87 per 100 ribu orang.
Sementara itu, tingkat kematian di antara wanita kulit hitam mencapai 119,8 per 100 ribu orang. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tingkat kematian wanita kulit putih yang mencapai 52 per 100 ribu orang. "Perbedaan signifikan juga tampak pada pria Bangladesh, Pakistan dan India," pungkas Stripe.
(wk/Bert)