Survival International melaporkan suku Arara di wilayah Cachoeira Seca, Amazon, Brasil terkena dampak besar karena wabah corona. Pasalnya, hampir setengah populasinya dilaporkan terinfeksi virus mematikan tersebut.
- Nidya Putri
- Senin, 22 Juni 2020 - 11:28 WIB
WowKeren - Virus corona (COVID-19) telah menyebar ke hampir seluruh negara di dunia. Bahkan worldofmeter mencatat ada lebih dari 9 juta orang yang terinfeksi virus mematikan tersebut.
Tak hanya perkotaan, virus corona juga telah menginfeksi orang-orang pedalaman yang tinggal di hutan hujan Amazon, Brasil. Brasil sendiri saat ini tengah berada di posisi kedua sebagai negara dengan jumlah kasus positif COVID-19 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat (AS).
Tercatat lebih dari 1 juta orang yang dinyatakan postif corona dengan jumlah korban meninggal sebanyak 50.659. Fatality rate atau tingkat kematian akibat virus corona di Brasil sendiri telah mencapai 6,4 persen.
Jumlah itu naik menjadi 12,8 pada penduduk asli Brasil. Berdasarkan data dari kelompok advokasi Indigenous People of Brazil, pada akhir Mei 2020, ada lebih dari 980 kasus positif COVID-19 terkonfirmasi dengan 125 jumlah kematian akibat corona di lingkungan penduduk pedalaman asli Brasil.
Menurut Survival International, sebuah organisasi yang mengadvokasi dan membela hak-hak adat, satu kelompok yang disebut sebagai suku Arara di wilayah Cachoeira Seca, menjadi kelompok yang paling terpukul. Dari 121 anggota, 46 persennya dilaporkan terinfeksi virus corona.
“Kami sangat khawatir,” ujar seorang lelaki Arara kepada Survival International. “Di pos kesehatan dekat desa mereka, tidak ada obat dan ventilator.” Untuk pergi ke kota atau rumah sakit terdekat, suku Arara harus berjalan sekitar tiga hari lamanya.
Suku Arara sendiri pertama kali ditemukan pada tahun 1987, relatif baru dalam sejarah masyarakat setempat sehingga membuat suku ini sangat rentan terhadap penyakit menular, papar Survival International. “Kami meminta perlindungan untuk pasien COVID-19,” ujar pria dari suku Arara kepada Survival International dilansir Live Science.
Selain diterpa virus corona, suku Arara juga terancam kehilangan tempat tinggalnya. Sejak Januari 2019 hingga Maret 2020, tanah Amazon yang ditempati Arara dan kelompok adat lainnya telah kehilangan lebih dari 8.000 hektare hutan karena penebangan liar, pembukaan lahan ilegal, dan penjajahan. Kelompok ini sendiri jumlahnya diperkirakan mencapai 900 ribu orang, dan telah hidup di hutan hujan Amazon selama ribuan tahun.
Sebelumnya, seorang kepala suku di huutan hujan Amazon yang bernama Paulinjo Paiakan dinyatakan meninggal dunia karena virus corona. Paiakan dilaporkan meninggal di rumah sakit di Kota Redencao, Brasil Utara, pada Selasa (16/6) lalu.
(wk/nidy)