Situs e-commerce Net-A-Porter melaporkan adanya lonjakan pembelian tas mewah hingga tiga kali lipat di seluruh Asia-Pasifik di masa pandemi virus corona. Kenaikan tersebut terjadi saat kebijakan lockdown berlaku.
- Nidya Putri
- Senin, 22 Juni 2020 - 13:10 WIB
WowKeren - Situs e-commerce Net-A-Porter melaporkan lonjakan pembelian tas mewah di seluruh Asia-Pasifik di masa pandemi virus corona. Lonjakan itu terjadi saat banyak negara memberlakukan lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Dikutip dari Channel News Asia, Net-a-Porter melaporkan selama masa pembatasan sosial pada bulan April hingga awal Mei, penjualan tasnya di Asia-Pasifik melonjak hampir tiga kali lipat atau tepatnya 261 persen, dibandingkan dengan tahun lalu.
“Selama masa lockdown atau pembatasan sosial akibat virus corona, ternyata orang akan melakukan apa saja untuk mencegah rasa bosan," tulis media berbasis di Singapura tersebut, Senin (22/6). "Ada yang jadi hobi memasak, main game, namun ada juga yang jadi berburu belanjaan online. Termasuk untuk mendapatkan tas terbaru dari desainer kenamaan dunia seperti Gucci dan Saint Laurent."
Lonjakan penjualan tas tangan mewah untuk kaum perempuan itu, sangat kontras dengan data penjualan ritel Singapura yang terpuruk cukup dalam. Penjualan ritel untuk kategori pakaian jadi dan alas kaki di negeri jiran itu, pada April anjlok 85,3 persen dibandingkan periode waktu yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, penjualan ritel secara online untuk hampir semua kategori produk menunjukkan peningkatan. Seperti toko OnTheList, yang memiliki total 250.000 anggota termasuk 22.000 anggota di Singapura, mengalami pertumbuhan transaksi 15 persen di masa PSBB sepanjang bulan April dan Mei.
Pada periode tersebut, OnTheList menjual 134.000 unit produk, termasuk kosmetik, anggur, dan tas tangan, dibandingkan dengan hanya 60.000 unit selama periode waktu yang sama tahun lalu.
Profesor pemasaran dan Direktur Retail Center of Excellence di Sekolah Bisnis Lee Kong Chian di Singapore Management University, Kapil Tuli, melihat hal yang masuk akal jika penjualan tas tangan mewah melonjak ketimbang pakaian dan alas kaki. Menurutnya, konsumen umumnya masih ragu membeli pakaian atau alas kaki, tanpa mencobanya.
Berbeda dengan tas tangan, calon pembeli sudah cukup puas dan yakin dengan hanya melihat gambarnya di toko online. "Gambar tas sudah cukup meyakinkan hanya dengan dilihat oleh calon pembeli. Risiko membeli tas sedikit lebih rendah dibandingkan membeli baju atau alas kaki secara online," kata Kapil Tuli.
Selain itu, belanja online juga dapat menjadi semacam kompensasi, menggantikan kegiatan travelling atau liburan yang setop sama sekali akibat pandemi virus corona. "Ini terapi ritel. Ketika interaksi sosial Anda hampir dihilangkan dan stres meningkat, itu (belanja tas mewah) adalah mekanisme pemulihan stres," terangnya. "Seperti halnya konsumsi es krim telah meningkat."
(wk/nidy)