Sambut New Normal, Jepang Tes Corona Lewat Air Liur dan Cuma Perlu Waktu 30 Menit
Reuters/Niels Christian Vilmann
Dunia

Jepang mulai melonggarkan restriksi di pintu masuk dan perbatasan negara seiring memasuki era new normal. Karena itulah otoritas setempat mengembangkan metode deteksi yang akurat dan cepat.

WowKeren - Beberapa waktu lalu Inggris merencanakan tes Corona yang tak perlu menggunakan spesimen usap (swab) tenggorokan. Sebagai penggantinya, tes akan didasarkan pada sampel air liur seseorang.

Namun nyatanya langkah ini sudah ditempuh oleh pemerintah Jepang. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pemeriksaan terhadap penerbangan internasional yang masuk ke Jepang di era new normal seperti sekarang.

Dilansir dari Trending Now!, pemeriksaan dengan spesimen air liur ini dilakukan supaya lebih cepat dalam mendeteksi kasus transmisi dari luar negeri. Alhasil metode yang hanya menghabiskan waktu pemeriksaan selama 30 menit ini digunakan di pintu-pintu masuk Jepang, seperti bandara dan perbatasan lainnya.

Terkait dengan akurasinya, pihak Jepang mengklaim jauh lebih baik ketimbang rapid test. Dengan demikian setiap orang yang baru tiba dari luar negeri, baik WN Jepang maupun WN Asing tak perlu menghabiskan waktu lama untuk dipastikan sehat.


Diketahui selama ini Jepang, selayaknya negara-negara lain, menggunakan tes swab yang salah satu sampelnya bisa diambil dari rongga hidung. Namun metode itu dianggap berbahaya bagi tenaga kesehatan karena peserta tes harus mengikuti tes bersin.

Seperti diketahui, tes bersin membuat droplets dari individu yang diperiksa, yang bisa saja mengandung virus, keluar dari tubuh dan berpotensi mengontaminasi tenaga medis yang mengambil sampel. Sedangkan dengan metode air liur, ancaman terhadap tenaga medis bisa berkurang.

"Metode baru ini akan sangat mengurangi beban pada pasien," beber Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato, dilansir pada Rabu (24/6). "Dan mengurangi kecemasan tenaga kesehatan ketika mengambil sampel."

Kebijakan ini sekaligus untuk membuat kepercayaan publik atas keputusan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe kembali. Sebab, seperti diketahui, Abe mendapatkan banyak kritikan karena dianggap terlalu dini dalam melonggarkan restriksi di pintu masuk dan perbatasan.

Seperti diungkap sebelumnya oleh Ahli Epidemiologi Teoritis dari Universitas Hokkaido, Profesor Hiroshi Nishiura, bahwa Jepang terancam berhadapan dengan gelombang kedua wabah virus Corona akibat pelonggaran pembatasan yang terlalu dini. Ia menyebutkan gelombang kedua ini bahkan bisa terjadi apabila ada setidaknya 10 pendatang yang positif COVID-19 namun tak terdeteksi.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait