Virus corona telah ditemukan pada talenan yang digunakan untuk kemasan salmon impor di pasar Xinfadi. Pusat grosir daging serta makanan laut itu menjadi klaster baru COVID-19 di Beijing.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 25 Juni 2020 - 11:32 WIB
WowKeren - Warga Tiongkok dilaporkan takut mengonsumsi ikan salmon setelah klaster baru virus corona (COVID-19) muncul di Pasar Xinfadi, Beijing. Setelah dilakukan pelacakan, dilaporkan bahwa virus corona telah ditemukan pada talenan yang digunakan untuk kemasan salmon impor di pasar Xinfadi.
Akibat hal ini, para pengekspor ikan salmon dari Eropa pun mengalami kesulitan. Tak hanya itu, supermarket dan penyedia e-commerce seperti Taobao, JD.con, dan Meituan yang menyediakan produk ikan laut beku, terpaksa harus memangkas penjualan salmon. Penjualan produk seafood secara daring bahkan dilaporkan telah merosot sejak 12 Juni, tepatnya sehari setelah infeksi virus corona kembali muncul di pasar Xinfadi.
Dampak dari infeksi baru virus corona juga dirasakan oleh pemilik restoran sushi dan hotpot di Beijing. Pemilik restoran hotpot ikan Yufu Yuzai, Barron Qin, mengatakan biasanya pelanggan mengantre di restoran miliknya untuk menikmati seporsi hotpot ikan. Namun, kini restorannya sepi meski tidak menjual ikan salmon.
Kepanikan juga terjadi ketika ada rumor bahwa penyebaran virus dapat meluas ke produk lainnya seperti daging sapi dan daging kambing. Hal itu memaksa beberapa pedagang daging menarik produk mereka. Sementara itu, pemasok daging dan buah dari luar negeri mengatakan, bea cuka Tiongkok telah meminta mereka untuk menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa pengiriman mereka aman dan tidak terkontaminasi.
Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 250 orang di Beijing terinfeksi virus corona. Virus itu kembali muncul setelah warga Beijing mulai menjalani kehidupan secara normal ketika lockdown dilonggarkan.
Klaster virus corona terbaru di Beijing berasal dari pasar Xinfadi, dengan kasus pertama dilaporkan pada 11 Juni. Pasar yang juga menjual daging dan makanan laut itu telah ditutup sejak Sabtu (13/6) lalu. Wabah telah menyebar ke provinsi Liaoning dan Hebei, di mana total lima kasus baru ditemukan sebagai kontak dekat pasien di Beijing.
Selain pasar Xifandi, pemerintah Beijing juga menutup beberapa blok pemukiman di selatan ibu kota Tiongkok itu. Sekitar 10 ribu pedagang dan pekerja di pasar tersebut kini akan dites secepatnya untuk melacak infeksi corona. Tiongkok juga secara resmi memberlakukan penguncian wilayah (lockdown) ketat kota Beijing dan melakukan pengujian massal virus corona.
Sejauh ini pemerintah kota Beijing melaporkan 253 dari 265 kasus terkait dengan klaster pasar Xinfadi. Pemerintah mengatakan masih melakukan pelacakan kontak untuk tiga kasus lainnya.
"Epidemi Beijing yang secara langsung terkait dengan Xinfadi pada dasarnya di bawah kendali, tetapi pada saat yang sama kami menemukan infeksi klaster rumah tangga dan tempat kerja dan kasus-kasus penularan di masyarakat," ujar juru bicara pemerintah kota Beijing, Xu Hejian, dalam keterangannya.
Xu juga mengatakan jika upaya pencegahan dan pengendalian virus tetap menjadi tantangan besar. Namun ia menegaskan jika penularan virus selama sepekan terakhir terus melambat. Kepala komisi kesehatan Beijing, Lei Haichao mengatakan jika penurunan kasus baru menjadi sinyal positif di tengah upaya pengendalian penularan virus corona.
"(Penurunan) ini membuktikan bahwa tindakan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan akhir-akhir ini termasuk upaya penelusuran kontak dan tes massal asam nukleat telah memainkan peran penting dalam upaya deteksi dini," ucapnya.
Pada awal Juni Beijing telah meningkatkan kapasitas pengujian virus corona per harinya menjadi 300 ribu dari sebelumnya 100 ribu. Hingga saat ini Beijing melaporkan hampir tiga juta warganya telah melalui pengetesan virus corona.
(wk/luth)