Pemakaian masker di area publik telah diwajibkan di Brasil sejak April untuk mencegah penularan COVID-19. Namun Bolsonaro kerap melanggarnya, bahkan ia juga tidak menerapkan jaga jarak sosial.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 27 Juni 2020 - 13:51 WIB
WowKeren - Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengajukan banding pada Jumat (26/6) atas putusan pengadilan yang mewajibkannya mengenakan masker di muka umum selama pandemi virus corona (COVID-19). Sebelumnya pada Rabu (24/6), pengadilan Brasil memang memerintahkan Bolsonaro mengenakan masker tiap kali muncul di muka umum.
Putusan ini diambil setelah advokat setempat mengajukan gugatan yang meminta lembaga penegak hukum mesti menghukum Bolsonaro atas sikapnya yang dianggap tidak bertanggung jawab dan tidak memberikan contoh yang baik pada warga Brasil.
"Presiden memiliki kewajiban konstitusional untuk mengikuti hukum yang berlaku di negara ini," tulis putusan hakim yang juga menjelaskan Bolsonaro harus ikut aturan atau dikenakan denda sebesar 2.000 real (Rp5,1 juta), sebagaimana dilansir dari CNN pada Jumat (27/6).
Sejak putusan pengadilan, Presiden Jair Bolsonaro selalu memakai masker di muka umum, namun tidak pernah dikenakan denda atas pelanggaran sebelumnya.
Pemakaian masker di area publik telah diwajibkan di Brasil sejak April untuk mencegah penularan COVID-19. Namun Bolsonaro kerap melanggarnya, termasuk tidak menerapkan jaga jarak sosial seperti berjabat tangan, menggelar pesta daging bakar, membeli hotdog, tanpa memakai masker.
Sedangkan Kejaksaan Agung setempat, yang mewakili pemerintah untuk urusan hukum, mengatakan keputusan pengadilan berlebihan sebab masker telah diwajibkan di Brasilia. "Intervensi dari pengadilan seperti ini tidak diperlukan," kata juru bicara Kejaksaan Agung.
Di sisi lain, selama ini Jair Bolsonaro memang dikenal selalu menyampaikan pernyataan kontroversial terkait pandemi virus corona di negaranya. Bahkan Bolsonaro pernah mengatakan langkah-langkah jarak sosial tidak perlu dilakukan agar tak memberi dampak negatif terhadap ekonomi.
Presiden Jair Bolsonaro bahkan kerap berselisih dengan para gubernur negara bagian dalam beberapa pekan belakangan terkait aturan karantina wilayah. Ia menyebut bahwa penguncian wilayah justru menimbulkan lebih banyak kerugian dibandingkan penyakit COVID-19 sendiri.
Sebagai informasi tambahan, saat ini Brasil menempati posisi kedua sebagai negara dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di dunia dengan 1,280,054 infeksi yang dikonfirmasi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 56 ribu pasien dinyatakan meninggal dunia, dengan jumlah kesembuhan mencapai 697,526 jiwa.
(wk/luth)